Jumat, 01 Juni 2018

Top semakin langka, Bot over supply?


Sebuah gay sex club di New York dalam acara mereka yang terbaru, mereka mengenakan harga yang berbeda untuk Top dan Bottom. Untuk Top cuma perlu membayar 25 dollar, sementara untuk bottom harus membayar 2 kali lipat lebih, yaitu 65 dollar. 

Orang banyak yang langsung protes melihat pengumuman itu karena seolah olah Top lebih dihargai dibanding bottom sehingga mereka tidak harus membayar semahal bottom. Ga jelas juga bagaimana yg versatile, atau bagaimana yang ga suka anal. Tetapi apakah ini menjadi sebuah indikasi fenomena yang katanya sedang terjadi, yaitu bahwa kelangkaan top yang membuat para bottom berebutan. Sehingga sesuai hukum ekonomi aja, ketika supply menurun, nilaipun naik. Top yang langka menjadi semakin berharga. Semakin yang supplynya semakin banyak, nilainya pun menurun seperti bot yang semakin banyak sehingga nilainya semakin menurun

Di sauna gay sempat dulu ada perbedaan harga seperti ini juga tetapi menggunakan perbedaa umur. Mereka yang berusia brondong cukup membayar harga sangat murah untuk masuk ke sauna, sementara semakin tua harus membayar semakin mahal. Yah menurut mereka para brondong yg kere kalau membanjiri sauna tersebut, maka gay yang lebih tua yg lebih berduit pasti akan rela membayar mahal utuk bisa masuk

Dan sepertinya sekarang usia sudah tidak menjadi ukuran menarik atau tidak menariknya lagi, karena sekarang yg menjadi langka adalah perbedaan role. Jadi bisa dibayangkan hari ini top bayar lebih murah di banding bot. Mungkin besok top yang ukurannya di atas 18 cm masuk gratis, dan lama lama mungkin top dengan ukuran di atas 18 cm yang cakep lama lama untuk masuk ke gay club gitu, bukan cuma gratis, tetapi di bayar oleh yang punya saking langkanya

Tetapi emang bener gitu top semakin langka dan bot semakin banyak. Kalau kata orang sih itu cuma karena yah pada dasarnya pria gay itu pasti akan lebih willing untuk eksplorasi anal seks sebagai bottom dari hari ke hari. Mungkin dulu yang mau coba jadi bot ga sebanyak sekarang, dan yang udah nyoba banyak yg jadi nagih. Jadinya yah seolah olah botnya semakin banyak. Tetapi jumlah topnya juga ga berkurang sih sebenarnya. Mungkin top yang jadi ga mau coba jadi bot, skrg akhirnya mau coba dan akhirnya convert menjadi top

Yah mungkin perbandingannya, 25% top, 25% bot, 25% vers, 25% no anal skrg menjadi 15% top, 30% bot, 35% vers, 20% no anal

Mungkin loh yah. Ga akan ada yg sempat ngadain survey juga sih

2 komentar:

  1. Sebagai top yg mulai nyaman jadi vers-bot merasa kesindir, emang iya sih kita bakal milih jadi bottom asalkan dapet top yg bisa ngerti kemauan para bottom.

    Pernah juga waktu itu mau fun sama bot sampe maksa dia harus jadi top gara" udah keenakan jadi bot

    BalasHapus
  2. Every gay is a bottom

    BalasHapus