Jumat, 19 Januari 2018

Kenapa Gay Relationship itu sulit


Artikel ini benar benar bagus menceritakan kenapa hubungan antar pria gay itu adalah sebuah hubbungan yang tidak gampang. Karena artikelnya dalam bahasa Inggris, ini coba aku terjemahkan jadi poin poin dalam bahasa Indonesia yang lebih gampang dimengerti yah. Ga boleh ada yg tersinggung yah karena poin poin ini sekalipun mungkin ga apply ke semua orang, tetapi harus kita akui sebagian besar dari kita memang seperti poin poin di bawah ini

Ini adalah 10 alasan kenapa hubungan antar sesama pria gay itu tidak gampang

1. Kita semua adalah penggemar seks
Pria adalah pria yang gampang terangsang secara seksual. Libido kita sebagai pria memang tercipta untuk selalu gampang dipicu oleh hal hal kecil. Ketika pasangan straight berkencan, ada satu manusia yang berlibido tinggi bernama pria yang selalu berusaha mendapatkan seks, sementara ada satu lagi manusia bernama wanita yang butuh waktu untuk membangun mood, yang membuat usaha gencar manusia bernama pria itu agak agak susah tercapai. Nah dalam dunia gay, kedua manusia yang berkencan adalah pria yang sama sama berlibido tinggi. Jadinya biasanya kalau di pasangan straight, mereka "pacaran" dulu baru "tiduran". Sementara kita "tiduran" dulu baru tentuin mau "pacaran" atau ga. Susah kan

2. Seks antar pria itu gampang
Pernah kepikiran nggak sebenarnya untuk sesama pria berhubungan seks itu gampang banget. Main ke kos teman, kunci pintu, bang bang bang. Kelar. Ga usah takut hamil, ga usah takut musti tanggung jawab di giring ke penghulu. Ga butuh takut kehilangan keperawanan untuk bekal "pernikahan". Ketika bingung mencari dimana, tinggal download aplikasi atau nunggu di sauna tempat fitness.
Segampang itu untuk memulainya, dan segampang itu untuk menyelesaikan dan menuju ke pria berikutnya.

3. Kita sering bingung sendiri
Karena kita tidak punya panduan pasti untuk menjadi gay, kita sering hanya mengandalkan masukan dari teman atau orang asing di internet yang belum tentu mengerti sepenuhnya kondisi kita. Jadinya kita jadi sering bingung sendiri apa sebenarnya yang kita cari. Apa yang menjadi tujuan kita. Apa yang harus kita hindari atau kita kejar. Semua standar dan norma dalam masyarakat tidak ada yang berlaku untuk kita. Ga heran kita sering bingung mau dibawa kemana diri kita sendiri ke depannya.

4. Kita semua melalui masa yang sulit
Mungkin sebagian dari kita ketika kecil pernah mencoba lipstik diam diam karena penasaran, atau diam diam bermain menggunakan barbie milik adik kita. Mungkin kita juga bingung ketika dimarahin oleh bapak kita ketika ketahuan bermain dengan barbie itu dan dipaksa main bola di luar bersama anak tetangga yang suka gangguin kita itu bersama dengan anak laki-laki lain di komplek yg suka manggil kita "bencong". Berlanjut ke masa remaja ketika kita akhirnya menyadari bahwa kita menyukai sesama jenis, dan tidak berani memberitahukan kepada siapapun karena takut.

5. Kita melewati masa "meletek"
Dan setelah sekian lama agak "tersiksa" oleh ketakutan, mungkin pada saat kuliah dan akhirnya ngekos sendiri atau ketika sudah kerja dan tinggal sendiri, kita semua akan melewati masa "meletek" dimana kita akan agak sedikit membabi buta untuk mencoba untuk eksplor semua aspek sebagai seorang pria gay. Kita mencoba pacaran untuk seminggu dan ganti pacar baru. Kita ML dengan pria yang satu di pagi hari, dan coba dengan pria yg berbeda di sore hari. Di masa ini kita merasa dunia adalah di genggaman kita. Tidak ada batasan untuk kita melakukan apapun, ataupun yg bisa membuat kita berkompromi dengan siapapun.

6. Ekspektasi kita berlebihan
Ego kita sebagai pria, ditambah sosial media yang menampilkan kesempurnaan di setiap sudut, membuat kita mempunyai ekspetasi yang berbeda dengan kenyataan. Ekspetasi berbeda akan diri kita sendiri, maupun dengan orang lain yang kita anggap pantas untuk kita. Kita menjadi sangat pemilih karena selalu mengira ada orang yang lebih pantas, lebih cakep, lebih seksi yang siap menerima kita setiap kali kita menemui sedikit masalah dengan orang yang kita dekati. Dalam pertualangan mencari kesempurnaan inilah akhirnya banyak sakit hati dan air mata yang tertumpahkan.

7. Timing nya selalu salah
Di saat orang mulai pacaran, kita masih bingung kita sukanya cewek apa cowok. Di saat kita yakin udah suka cowok, yang lain mulai planning mau nikah. Dan di saat yg lain udah nikah, kita sedang bersenang senang berganti dari satu cowok ke cowok lain. Di saat yg lain punya anak, kita mulai mempertanyakan perlukah kita berpasangan karena kita sepertinya tidak akan pernah bisa punya anak karena nggak mau punya istri dan ga mungkin adopsi anak sepertinya. Di saat itulah kita berpikir mungkin paling nggak punya pasangan tetap deh, dan sebelum sempet ketemu, mid life crisis datang. Tiba tiba kita merasa in secure dan berburu brondong dan sampai satu saat akhirnya semuanya udah telat. Ga pernah bener timingnya kayaknya yah


8. Tidak ada tekanan untuk mencari pasangan tetap
Konsep pasangan dalam dunia gay adalah pilihan. Yah tentu semua orang ingin berpasangan. Tetapi dengan tidak adanya ikatan resmi yang diakui atau tekanan masyarakat untuk mencari pasangan seperti mereka yang straight, jelas kita tidak selalu merasakan perlunya berpasangan. Yang penting kita bisa hidup bahagia dan nyaman dengan diri kita sendiri.

9. Kita ragu untuk berkomitmen
Bukan berarti kita takut untuk berpasangan sih. Tetapi karena pernikahan sesama jenis baru mulai diakui negara negara maju, kita jadi suka mikir apakah itu benar benar sesuatu yang kita inginkan untuk masa depannya. Apalagi untuk kita yang tinggal di indonesia. Janji sehidup semati dengan pasangan sesama jenis masih ga jelas akan seperti apa jadinya di masa depan. kemungkinan salah satu akan dipaksa menikah duluan dan meninggalkan yang lain patah hati. Kalau pun sama sama tidak mau menikah dengan wanita, juga ga kebayang bagaimana untuk hidup bersamanya. mungkin malah berakhir dengan diusir dari rumah oleh tetangga karena dianggap memberi contoh kepada anak anak di se RT. Karena banyaknya ketidakpastian itu kita menjadi agak sedikit ragu untuk berkomitmen juga karena ga tau mau dibawa ke mana komitmennya

10.Rasa cemburu itu selalu ada
Mungkin bukan cemburu semata sih. Lebih ke insecure sih. Karena kita sudah tahu kita berbeda, kita selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Membuktikan bahwa sekalipun kita berbeda, kita tetap bisa menjadi yang terbaik. Dan akibatnya kita selalu berusaha sekuat tenaga dan selalu was was ketika ada yg lebih baik dari kita. Kita selalu merasa kurang dan kalah di satu dan lain hal. Sosial media membuat itu semua menjadi semakin parah. Pencitraan di sosial media kita anggap sebagai standar yang harus kita perjuangkan untuk capai. Titik terbaik kehidupan orang orang yang ditampilkan dengan penuh filter itu kita bandingkan titik terendah dalam hidup kita. Yah jelas perasaan kita menjadi makin galau. Dan ini impactnya berasa banget dalam memilih pasangan untuk kita. Kita selalu berusaha mendapatkan yang lebih dari orang lain, yang lebih pantas, dan yg lain lain yang mengakibatkan kita melewatkan semua






4 komentar:

  1. Minta artikel aslinya boleh ga min? Thanks

    BalasHapus
  2. All perfectly described. Ah love you touchemagz

    -Brad

    BalasHapus
  3. Timing yang salah... Gue banget!

    BalasHapus