Rabu, 27 Desember 2017

It's not Top, It's not Bottom. It's called SIDE


Menjadi Top atau Bottom seperti menjadi pilihan wajib sebagai pria gay. Pilihan menjadi Top atau Bottom ibaratnya adalah kewajiban yang harus ditentukan apabila kita memutuskan untuk menggunakan embel-embel "gay". 

Saking wajibnya memutuskan pilihan antara Top atau Bottom, mereka yang belum pernah melakukan hubungan anal seks akhirnya juga suka mencap mereka itu Top atau Bottom bukan dari posisi yang mereka sukai dalam hubungan anal seks, tetapi dari kepribadian dan keseharian mereka. Akhirnya Top yang seharusnya sebagai pihak yang melakukan penetrasi dianggap sama dengan pihak yang lebih ngemong, lebih ngemanjain, lebih laki, lebih dewasa. Sementara Bottom yang seharusnya adalah pihak di penetrasi dianggap sama dengan pihak yang lebih dimanjaain, lebih disayang, lebih feminim dan lebih muda. Itu agak maksa sih karena tidak selamanya yang dipenetrasi adalah pihak yg lebih manja atau lebih muda. Begitu pula sebaliknya.

Dan terjebak di tengah-tengahnya adalah mereka yang menyukai semuanya  yang di sebut versatile atau vers. Mereka yang suka dipenetrasi maupun melakukan penetrasi. Mereka kerap dianggap sebagai pihak yang maruk dan plin plan atau bahkan sebagai pihak yang "tidak murni". Sehingga akibatnya ada mereka yang hanya mau dengan yg "berdarah murni" tidak mau berhubungan dengan para vers karena dianggap bukan "pure top" atau "pure bottom". Sekalipun ini sepertinya lebih sering dilakukan oleh para "pure bottom" yang hanya mau dengan "pure top". Kalau "Pure top" sepertinya lebih fleksibel.

Ketika kita punya Top yang suka melakukan penetrasi, Bottom yang suka dipenetrasi, dan Vers yang suka dua duanya, kita suka lupa ada satu kelompok lagi, yaitu yang tidak suka melakukan dua duanya. Dalam istilah barunya ini mereka di sebut "Side". 

Ini adalah kelompok yang tidak mau terlibat dalam hingar bingar perburuan rebutan pure top berukuran besar oleh para Pure bot, atau kehebohan para top mencoba menconvert sesama top menjadi bottom atau bahkan pria straight menjadi bot untuk mereka. Mereka ini adalah kelompok yang sudah cukup puas dengan semua hubungan intim tanpa harus ada penetrasi, atau bahkan tanpa melibatkan lubang pantat sama sekali. Para pure top atau pure bot yang harus selalu melibatkan penetrasi dalam hubungan seksual akan selalu bingung dengan mereka. "Trus kalau ML mau ngapain?". Itu yang selalu mereka tanyakan. 

Dan yang sering dituduhkan ke mereka adalah bahwa mereka yang tidak menyukai penetrasi ini bukan gay. Mereka ini homophobe. Mereka ini gay palsu. Agak agak absurd sebenarnya sih tuduhan itu. Bagaimana caranya bisa menuduh seorang pria yang masturbasi dengan membayangkan dirinya melakukan oral seks ke pria lain, bukan seorang gay hanya karena dia tidak menyukai melakukan penetrasi atau dipenetrasi pria lain. He still love the dick. Just not the asshole. 

Tetapi seorang gay itu mempunyai begitu banyak dimensi yang berbeda yang dalam mengekspresikan dirinya, terutama dalam urusan seksualitas. Apapun yang menjadi pilihannya, selama poin penting yang membedakan mereka sebagai seorang gay yaitu ketertarikanya kepada pria tetap menjadi hal yang utama, seharusnya keberagaman selera itu tidak harus menjadi masalah

Jadi kamu termasuk yg mana? Top, Bot, Vers, atau malah Side? Tenang aja, selama kamu melakukan itu semua itu dengan pria, kamu adalah gay kok:)

7 komentar:

  1. I'm side :).. Pingin tahu jumlah "side" berapa banyak/persen jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin gue juga bisa dikatakan side. Gue pernah ML dan sering nonton porno sambil jerking off tp gue ga menemukan "kepuasan" seperti yg orang lain rasain. Atau mungkin gue harus lebih banyak pengalaman lagi? Dunno

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Kalo saya mungkin bisexual, saya punya istri, sedang hamil Alhamdulillah, tapi masih suka browsing gambar dan video cowo keker, ups...tapi belum pernah ml sama laki sih, cuma sekedar penikmat video sama gambar aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah baca di satu blog cerita nyata tentang pasangan hetero yang menikah. Meski udah nikah di hati masing-masing si pasangan ini masih pada nyimpen perasaan yang gak sampe atau gak pernah selesai sama gebetan-gebetannya yang dulu. Tapi masing-masing pasangan gak mempermasalahkan itu dan merasa itu memang bagian masalalu yang mungkin akan tetap terus kebawa seumur hidup yang penting adalah komitmen diantara keduanya. Trus jadi kepikiran, mungkin ada gay yang mencoba untuk menikah dalam artian positif bukan maksud buat pelarian, tapi kan pasti ada aja orang yang dalam hatinya pengen nikah dan punya anak tapi dilain sisi orang itu ngerasa kalo dirinya terlahir gay dan gak mungkin 100% jadi hetero. Ini kaya ngasih saya pencerahan. Oh it's oke ko gak perlu 100% jadi normal dan meinggalkan dunia gay buat nikah sama cewe asal kita tau batasan dan berkomitmen. Sekedar masih nyimpen perasaan pas liat cowo yang lucu-lucu meski udah nikah gak dosa kok menurut saya toh heteropun kalo liat yang cakep selain pasangannya pasti dedegser namun mereka pasti sadar oh gua sekarang udah nikah

      Hapus
  4. sider here...suka bingung soal role,sampai pernah dimarahin katanya kalau ga suka anal ga usah jadi homo sekalian haha

    BalasHapus