Senin, 22 Mei 2017

Salah siapa di pengrebekan?


Pengrebekan Atlantis Gym di Kelapa Gading meninggalkan berbagai perasaan campur aduk yang terasa seperti after taste yang tidak mengenakan di mulut. Mulai dari penggrebekan dadakan dengan oleh polisi dan penangkapan 144 orang yang sedang berada di sana menggunakan pasal yang tidak relevan, disambung dengan beredarnya foto foto tidak pantas mereka yang ditangkap dengan muka jelas dan badan telanjang, ditambah dengan menjadi viralnya foto foto tersebut yang mengundang komen sinis baik dari sesama gay maupun dari masyarakat pada umumnya. Semuanya terasa seperti drama yang tidak diperlukan, yang hampir terasa seperti dibuat-buat

Siapa sebenarnya yang salah dalam kasus ini?

Pengunjung Atlantis? Apakah mereka bersalah karena mengunjungi Atlantis yang terkenal sebagai Sauna tempat mesum selama 3 tahun terakhir ini? Tentu saja tidak. Mereka bayar untuk masuk ke Sauna itu. Dan Sauna tersebut sudah beroperasi lama tanpa ada masalah. Salahkan mereka ke sana melampiaskan nafsu mereka? Yah mereka sudah tau apa yang akan mereka perbuat pada waktu mereka memutuskan ke sana. Mereka adalah sama seperti pria biasa lainnya, yang selalu mencari kesempatan untuk menyalurkan nafsunya. Itu adalah hal yang normal. Pria manapun pasti pernah merasakan keinginan itu. Ada yang salurkan ke pasangannya. Kalo single ada yang mencari hook up atau ke sauna. Ada yang akhirnya cuma end up nyabun di kamar mandi.

Dari sekian banyak pilihan, mereka akhirnya memilih untuk ke sauna untuk menyalurkan nafsunya. Dan apesnya aja mereka ke sana di saat pengrebekan terjadi. Apakah salah mereka itu terjadi pada mereka? Tentunya tidak. Apakah salah mereka membiarkan dirinya di foto telanjang oleh polisi? Apakah salah mereka disebarkan hampir di semua grup WA? Apakah mereka pantas mendapatkan hukuman karena mereka bertelanjang ria sambil menonton stripper bersama ratusan pria lain sehingga pantas mendapatkan perlakuan seperti itu? Tentu tidak. Stop slut shaming. Kita semua sebagai pria mempunyai pilihan untuk bagaimana menanggapi kebutuhan jasmaniah kita. Seperti apapun cara orang memenuhi kebutuhan tersebut, selama tidak merugikan orang lain atau dengan anak di bawah umur, itu adalah urusan mereka masing masing yang tidak perlu kita nilai tingkat kesuciannya karena memang bukan urusan kita.

Jadi salah siapa? Pengurus atlantis? Penerima tamunya? Strippernya? Mereka semua pekerja yang mencari nafkah di sana. Bukan salah mereka ini semua terjadi. Mereka bekerja untuk sebuah tempat yang sudah bertahun tahun beroperasi dengan ijin yang sama dengan berbagai hiburan orang dewasa di komplek ruko tersebut, dengan biaya keamanan bulanan yang di setor demi keberlangsungan bisnis.

Jadi salah siapa? Polisi? Di satu sisi polisi berhak untuk mengrebek tempat yang dianggap tidak memiliki ijin bisnis yang tepat. Tetapi di sisi lain agak tidak etis rasanya foto yang pastinya diambil oleh mereka ketika pengrebekan terjadi, malah disebar kemana mana. Apalagi foto foto tersebut menampilkan muka jelas mereka dalam keadaan telanjang.

Oklah, kita tidak akan mendebat proses pengrebekannya.

Tetapi sebenarnya real damage terjadi setelah foto foto tersebut dishare ke mana-mana. Apakah kaum straight yang menyebarkan foto foto telanjang tersebut sambil becanda di setiap grup Whatsapp adalah sebuah hal yang benar? Yah tentu saja tidak. Tetapi karena hebohnya foto yang tersebar, dan mereka tidak merasa itu adalah orang yang related ke mereka, mereka nggak pakai mikir udah langsung forward semua foto itu ke semua grup whatsappnya. Sama seperti ketika kita mendapatkan potongan bokep Ariel. Apakah kita sempat merasa kasian dan tidak menyebarkan video itu ketika mendapatkannya? Tentu tidak. Karena video itu menarik dari sisi kontroversialnya dan kita tidak kenal Ariel secara personal sehingga kita ga punya rasa sayang yang memadai ke Ariel untuk merasa iba dan menghentikan peredarannya. ltulah yang terjadi dengan orang straight dan foto foto Atlantis kemarin. Karena tidak merasa ada ikatan dengan orang orang di foto tersebut, mereka sebarinnya udah ga make mikir.

Tetapi bagaimana dengan gay yang mendapat foto tersebut dan menyebarkannya? Itu beda ceritanya. Karena mereka seharusnya yang paling bisa mengerti perasaan orang orang yang di foto itu. Dan ketika mereka memposting foto foto tersebut atau mengirimkan foto itu ke grup lain, mereka menambah beban ketakutan terdalam dari setiap pria gay yang sedang ketangkap basah melakukan sesuatu yang salah karena mereka gay. Apalagi kalau postingnya di tambah bumbu menggurui dengan pesan moral atau dengan kata kata "sukurin". Itu udah ga bener

Ketika ada yang kehilangan mobil, paling nyebelin ketika ada yang tahu, dan komennya adalah "makanya, kan udah dibilangi lain kali kunci yang benar",  atau "kamu itu ceroboh banget sih, biar ini jadi pelajaran buat kamu" atau " sukurin, siapa suruh tadi parkir di luar". Kalau ga bisa kepikiran komen positif yang membantu, boleh diam aja cukup pukpuk untuk menunjukkan dukungan kamu.

Begitu juga di kasus ini. Daripada komen penuh judgmental, boleh loh secara positif aja komen tanpa harus ikutan nyebarin. Bahkan kalau dah ga tahan komen negatif, mending diam aja ga usah komen apa apa karena itu akan jauh lebih membantu daripada musti liatin komen komen sok bijak yang nyebelin atau sok asik

Kejadian ini jelas akan meninggalkan bekas luka dalam buat semua yang terlibat. Apalagi kabarnya mereka semua diangkut dalam keadaan telanjang ke kantor polisi sebelum dilepas sehari setelahnya.

Daripada kita coba mencari siapa yang salah dalam kejadian ini, mungkin kita bisa belajar untuk bagaimana bisa menyikapi hal hal seperti ini dengan benar. Kejadian seperti ini besar kemungkinan akan terulang suatu hari. Tetapi kesalahan kita ketika kehilangan empati itu tidak boleh sampai terulang lagi, karena dari semua orang di dunia ini, harusnya kita yang paling mengerti apa yang mereka rasakan sih

6 komentar:

  1. Kenapa gue merasa ngga adil aja perlakuan mereka terhadap para gay nya ya...??
    Apa karna mendekati bulan ramadhan jadi mencari - cari kesalahan biar di bilang kalo mereka "kerja"
    Kenapa tempat mesum lain ngga digrebek sekalian..dan kenapa foto telanjang bisa kesebar kemana - mana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup. Makanya banyak yg bilang agak agak pengalihan isu nih

      Hapus
  2. Tapi sisi baiknya adalah, kita bisa lihat kinerja komnas HAM yg ngga tinggal diam liat foto itu kesebar. Walaupun banyak komentar miring dr mereka yang awam, tp mereka tetep mengusut siapa penyebarnya.
    Entah kenapa ini bikin gw ngerasa aman aja, I mean sometimes ketika ada yg terjerat kasus krn orientasi seksualnya dan dakwaannya aneh2 tetep bakal ada yg bela.
    Jujur ini bikin gw seneng dan berjanji bakal milih Jokowi lagi di pilpres berikutnya (sebelumnya gw golput) soalnya pak Jokowi sebelumnya judga udah pernah bilang kalau LGBT itu bagian dr negara (atau something like that, ngga boleh ada diskriminasi). Love you pak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Baru dia presiden beneran dukung kita

      Hapus
  3. Owh... Jadi udah dilepas? Salah satu korban, temenku kenal loh. & masih sempet chattingan beberapa hari sebelumnya

    BalasHapus