Minggu, 30 April 2017

Bebas LGBT sebagai syarat menjadi mahasiswa


Keparnoan terhadap LGBT di kalangan akademis sepertinya terdengar agak kontradiktif yah. Seharusnya dengan menjadi bagian dari kalangan akademis, harus mereka memiliki pendidikan yang cukup untuk bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jelas dan logis.

Tetapi sepertinya tidak demikian halnya dengan Universitas Andalas yang menciptakan kontroversi baru sebagai perwujudan ketakutan berlebihan mereka terhadap LGBT. Muncul di twitter berita mengenai bahwa adanya surat "bebas LGBT" yang harus ditanda tangani calon mahasiswa Universitas Andalas


Apabila kita buka formulirnya, makan akan terlihat sebuah surat pernyataan bahwa sang calon mahasiswa bukanlah LGBT, dan apabila ternyata ketahuan kelak sang mahasiswa adalah LGBT maka dia bersiap untuk dikeluarkan dari universitas.


Surat tersebut mengundang kehebohan di Twitter yang membuat orang bertanya-tanya mengenai sikap diskriminatif Universitas Andalas ini. Banyak pihak yang menganggap sikap mereka berlebihan dan bertentangan dengan undang undang yang memberikan hak yang setara untuk semua warga negara memperoleh pendidikan.

Tetapi di lain sisimuncul juga gerakan yang mendukung Universitas ini yang bahkan melahirkan #DukungUnandTolakLGBT di twitter

Akhirnya pihak universitas menyadari kesalahan mereka dan menghapus semua keterangan mengenai surat tersebut dalam proses pendaftarannya. Meskipun sudah dihapus, tetapi pihak kampu menolak untuk mengomentari hal tersebut.

Yah semoga ini ga menjadi tren yah. Apalagi setelah awal tahun kemarin menristek sempat melarang Universitas yang bernaung di bawah Dikti untuk mendukung keberadaan LGBT di kampus

Takut amat sih sama LGBT. Kita juga mau belajar kok. Bukannya cuma nyari nyari cowok di kampus. Tujuan utamanya tetap belajar, dapat gelar dan move on with our life. Kalau di tengah proses kebetulan nemu yang cocok yah ga papa toh

3 komentar:

  1. dan yang membuat gue geli ya min disitu dalam form jelas tertulis"demikian surat pernyataan ini saya tulis tanpa adanya paksaan dari pihak manapun",,,,sedangka yang tertera pada web nya "wajib membawa surat pernyataan bebas LGBT",,,bukankah itu konnyol,,bukannya pernyataan dalam web itu suatu pemaksaan??

    BalasHapus
  2. Buat yg masih belum nyadar kalo negara kita ini kuno, ketinggalan jaman, konservatif, sok agama-is tapi hipokrit, sok bhineka tapi jelas-jelas rasis dan diskriminatif, nih salah satu contoh terang-terangan berikutnya.

    Kalo dipikir ambisinya pengen go global, pengen punya nama baik di mata dunia, tapi kok kelakuannya masih outdated dan jaman purba begini. Nerima fakta dunia modern dan perubahan aja ga bisa, percuma lah ngarep bisa bersaing di era perdagangan global. Diketawain malah. Malu maluin aja... -_-

    BalasHapus
  3. Sepertinya syarat bebas LGBT di Unand jalan terus..


    https://m.tempo.co/read/news/2017/05/05/173872700/mahasiswa-baru-unand-harus-bebas-lgbt-ini-kata-wali-kota-padang

    https://m.tempo.co/read/news/2017/05/02/173871563/rektor-unand-ogah-cabut-syarat-mahasiswa-baru-bebas-lgbt-ada-apay

    BalasHapus