Kamis, 22 Desember 2016

Surat untuk Mama - Selamat hari Ibu



Halo Ma

Aku mau nulis surat ini karena ada begitu banyak hal yang tidak sempat terucapkan pada saat aku telpon untuk mengucapkan selamat hari ibu tadi pagi

Aku ingat banget ketika tadi pagi kamu mengatakan bahwa kamu tidak butuh hadiah apapunn di hari ibu ini selain ketenangan hati bahwa aku akan ada yang ngurus pada saat tua nanti. Dan yah seperti biasa, aku yang sudah tahu arah pembicaraan tersebut, dan secara otomatis langsung mengeles dengan seribu alasan yang telah ribuan kali aku gunakan. Mulai dari pekerjaan sampai luka lama dari pacar wanita fiktif yang pernah aku gunakan bertahun-tahun lalu. Dan seperti biasa, kamu juga cuma menjawab “Mama cuma ingin kamu bisa menikmati hidup sampai tua di tangan seseorang yang bisa ngurusin kamu “

Ma, aku sering banget dengar pepatah yang bilang bahwa “every mom knows”. Maksudnya bahwa insting seorang ibu itu memang kuat banget terhadap apapun yang terjadi dengan anaknya. Sering pikiranku melayang dan membayangkan bahwa kamu sebenarnya mungkin sudah tahu bahwa anakmu ini memang berbeda, memang tidak akan pernah bisa menikah dengan wanita dan memberikanmu tempat duduk di pelaminan di samping calon istriku. Buktinya kamu akhir akhir ini mulai menegaskan bahwa yang kamu inginkan adalah “seseorang” yang bisa menemaniku di hari tua. Aku ingat sekitar 8 tahun lalu kamu masih sangat spesisik mengenai “wanita dari keluarga baik baik yang bisa menjadi partner dan ibu dari anak anakku”. Seiring tahun berlalu permintaanmu semakin sederhana hingga hanya menjadi “seseorang untuk tumbuh tua bersama”. Apakah artinya kamu mulai tahu mengenai diriku yang sebenarnya ma? Apakah kamu menungguku untuk mengakuinya dan menceritakan yang sesungguhnya padamu ma? Apakah kamu menunggu aku mengenalkan pria hebat yang telah bersamaku 10 tahun terakhir ini yang sudah aku yakini akan menjadi teman tumbuh tua bersamaku?

Aku ingin sekali menceritakan padamu mengenai dia ma. Aku ingin sekali mengatakan bahwa anakmu ini sudah menemukan sosok yang kamu inginkan tersebut. Mungkin dia bukan wanita, tetapi dia dari keluarga yang baik baik kok ma. Mungkin dia tidak akan pernah menjadi ibu dari anakku, tetapi dia (mungkin) bisa menjadi ayah kedua dari anak-anakku kelak. Dia telah membuatku menjadi pribadi yang jauh lebih baik dalam 10 tahun terakhir ini ma. Dia adalah belahan hatiku, dan aku ingin tumbuh tua bersamanya sampai kami saling menutup mata. Aku ingin sekali memperlihatkan padamu ma betapa kuatnya hubungan kami berdua

Tetapi aku masih belum berani ma. Aku masih takut kamu tidak bisa menerima. Aku takut kamu akan shock dan berhenti mencintaiku. Aku takut kamu akan menjauhiku dan mengatakan kata kata menyakitkan seperti bahwa kamu tidak mau punya anak seperti aku.  Aku juga tahu bahwa kalau sampai aku ceritakan semua padamu, kamu pasti akan butuh waktu yang sangat lama untuk mencerna dan belajar untuk menerimanya. Dan aku tahu proses tersebut tidak akan gampang karena tidak ada satupun orang dalam hidupmu yang mengerti dan melalui proses seperti ini.

Di usia rentamu, aku tidak ingin menambah beban seperti itu dalam pikiranmu. Mungkin memberi harapan semu dari tahun ke tahun dengan cerita kebohonganku tidak akan memberikan tekanan seperti apabila aku memaksamu untuk menghadapi kenyataan bahwa anakmu itu berbeda.
Aku terus terang masih tidak tahu harus berbuat seperti apa ma. Yang penting sekarang aku cuma ingin kita bersama-sama dapat saling menikmati kebersamaan kita di sisa hidupmu. Aku terlalu takut mengorbankan itu untuk sebuah kejujuran yang aku sendiri tidak tahu akan seperti apa pengaruhnya terhadap hidupmu

Aku tidak akan pernah mengirimkan surat ini untukmu. Kamu juga mungkin tidak akan pernah membaca surat ini di blog ku yang kamu bahkan tidak tahu keberadaannya. Tetapi aku berharap dengan menuliskannya di sini bisa membantuku untuk mempersiapkan diri untuk (mungkin) suatu hari akan berani untuk menceritakannya semua kepada mu


I love you ma

9 komentar:

  1. Semangat bro admin,,, moga ketemu pilihan terbaik antara memilih terbuka atau tetap berahasia,,,mama saya sudah tau orientasi saya , dan apes nya karena insiden, setahun pertama dia jadi sering sakit karena fikiran, sampai saya merasa bersalah, tapi ada berkah didalam musibah, semenjak mama saya sering sakit karena fikiran dia di rujuk ke psikoteraphy, dan disana dia mendapat informasi tentang 'gay' dengan adil, sekarang beliau lebih bisa menerima saya apa adanya, walau nama nya orang tua tetap sesekali dia bicara seperti yg ibu bro admin sampaikan, dia khawatir dengan masa tua saya kelak, gak bisa jawab apa2, saat ini cuma mau buktiin bisa mandiri dalam segala hal, berharap dengan begitu membuat beliau tenang dan yakin saya akan baik2 saja walau kelak hidup sendiri di masa tua :). Semoga hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semangat juga yah:) Yup, cara terbaik adalah dengan membuktikan kita bisa agar mereka tetap bisa yakin dengan kita tanpa melihat orientasi seksual kita

      Hapus
  2. Semangat Babang Adminnya, semoga diberi kekuatan dalam menentukan pilihan hidupnya dan hidup orang2 yang dicintainya. Sebagai contoh, mungkin gw agak egois dengan bilang klo gw gay dan terkena hiv positif di saat yang bersamaan pada mama gw. Dy ga pernah nunjukin klo dy sedih dan terpukul karna pilihan hidup anaknya. Tetapi aku mencoba mengajaknya ke klinik tempat aku berobat, dmn dy bisa mendapat berbagai informasi ttg hiv dan gay. Sama kayak mamanya babang admin, waktu gw bilang klo gw gay, pertanyaan mama gw adalah ttg org pendamping gw di masa depan, harus cari yang bener dan baik2. Tapi sayangnya saat ini jiwa dan batin gw terlalu rusak untuk dapat diperbaiki dan ga tau deh masih ada ga diluar sana yang mau terima gw klo gw bilang gw ODHA :)
    Ga ada bayangan ataupun harapan muluk2 ttg pasangan, bisa bangun setiap hari dengan sehat aja dah bersyukur deh babang admin.

    Hope u are all doing just fine yah babang admin

    BalasHapus
    Balasan
    1. hope you always doing fine too:) and thank you for your story:)

      Hapus
  3. Wow. Mantap, Min. Semoga ujungnya yang terbaik buat Mamah, mimin, dan partner mimin hehehe.
    Btw. Bisalah kapan2 sedikit (atau banyak) cerita soal laki-laki yang bikin mimin makin baik wahaha.

    BalasHapus
  4. Masalah semua gay rata" sama
    Gw sendiri sering mencoba buat berpikir bagaimana gw ke depannya, aplg dengan gw yg sudah tdak ada ortu
    Berkali" coba jalani hubungan dengan wanita, dan ketika dengar cerita tman" yg udah menikah gw malah takut klo nantinya gw gak bisa berubah dan gak bisa puasin nafsu istri gw nanti

    BalasHapus
  5. Hai ... Sudah lama saya mengikuti blog ini meskipun on-off, dan salut untuk mimin ulasannya yang selalu mengedepankan be positive gay.

    Saya dan partner menjalani tahun ke-7, mungkin bisa dibayangkan bagaimana terikatnya kami satu dengan yang lain, bahwa kita secara sosial bisa dikatakan sudah "menikah". Pada minggu, tanggal 1 januari 2017, partner saya tersebut "dipanggil" Tuhan melalui sakit sekitar sebulan sebelumnya, padahal sebelumnya dia orang yg sangat sehat. Hancur perasaanku, mungkin sampai detik ini, saya masih menatanya kembali.

    Yang jadi catatan buat saya adalah begitu rapuhnya manusia jika hanya mengandalkan dirinya sendiri, merasa sudah berbuat baik maka seharusnya hal baik pula yang akan terjadi, dalam arti saya tidak pernah mengandalkan / berserah ke Tuhan. Seharusnya kami (saya dan partner) lebih mencintai Tuhan lebih dari apapun di dunia ini, karena Tuhan kekal dan yang di dunia ini hanya sementara dan akhirnya akan membuat kita kecewa.

    Sekarang saya mulai belajar tentang Kristen, yang dulu belum mau saya kenal karena Kristen melarang homosexual. Tapi perasaan damai tidak dapat dibohongi sejak saya belajar Kristen, damai yg masih kecil, tapi menenangkan, ditengah masalah besar yang baru saya hadapi. Seorang teman bilang, tidak perlu dipusingkan "kembangannya", yang perlu dilakukan "hanya percaya". Ketika kita percaya, otomatis kita akan berarah untuk melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

    Maksud saya menulis ini karena ingin share dan berbagi ... Saya juga masih dalam tahap belajar yang masih sangat dasar ... Hanya saja perasaan kehilangan yang saya rasakan semiga bisa menjadi pelajaran bahwa kita harus lebih mengenal Tuhan, baik kita heterosexual maupun homosexual.

    To mimin, saya berharap suatu hari kita bisa kenal di dunia nyata, sehingga kita lebih bisa share untuk "memperkaya" diri kita agar jadi manusia yang selalu dekat dengan Tuhan. Just info, saya sangat kagum dengan tulisan mimin dari dulu ... Tapi dulu saya hanya pembaca pasif, baru kali ini saya menulis di blog ini. Salam kenal.

    BalasHapus
  6. Hai ... Sudah lama saya mengikuti blog ini meskipun on-off, dan salut untuk mimin ulasannya yang selalu mengedepankan be positive gay.

    Saya dan partner menjalani tahun ke-7, mungkin bisa dibayangkan bagaimana terikatnya kami satu dengan yang lain, bahwa kita secara sosial bisa dikatakan sudah "menikah". Pada minggu, tanggal 1 januari 2017, partner saya tersebut "dipanggil" Tuhan melalui sakit sekitar sebulan sebelumnya, padahal sebelumnya dia orang yg sangat sehat. Hancur perasaanku, mungkin sampai detik ini, saya masih menatanya kembali.

    Yang jadi catatan buat saya adalah begitu rapuhnya manusia jika hanya mengandalkan dirinya sendiri, merasa sudah berbuat baik maka seharusnya hal baik pula yang akan terjadi, dalam arti saya tidak pernah mengandalkan / berserah ke Tuhan. Seharusnya kami (saya dan partner) lebih mencintai Tuhan lebih dari apapun di dunia ini, karena Tuhan kekal dan yang di dunia ini hanya sementara dan akhirnya akan membuat kita kecewa.

    Sekarang saya mulai belajar tentang Kristen, yang dulu belum mau saya kenal karena Kristen melarang homosexual. Tapi perasaan damai tidak dapat dibohongi sejak saya belajar Kristen, damai yg masih kecil, tapi menenangkan, ditengah masalah besar yang baru saya hadapi. Seorang teman bilang, tidak perlu dipusingkan "kembangannya", yang perlu dilakukan "hanya percaya". Ketika kita percaya, otomatis kita akan berarah untuk melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

    Maksud saya menulis ini karena ingin share dan berbagi ... Saya juga masih dalam tahap belajar yang masih sangat dasar ... Hanya saja perasaan kehilangan yang saya rasakan semiga bisa menjadi pelajaran bahwa kita harus lebih mengenal Tuhan, baik kita heterosexual maupun homosexual.

    To mimin, saya berharap suatu hari kita bisa kenal di dunia nyata, sehingga kita lebih bisa share untuk "memperkaya" diri kita agar jadi manusia yang selalu dekat dengan Tuhan. Just info, saya sangat kagum dengan tulisan mimin dari dulu ... Tapi dulu saya hanya pembaca pasif, baru kali ini saya menulis di blog ini. Salam kenal.

    BalasHapus