Selasa, 25 Oktober 2016

When Love and Ego Collide


Akhir akhir ini sering mendengar tentang cowok yang jatuh cinta setengah mati kepada seorang cowok lain. Sebenarnya sang cowok lain tersebut perasaannya ga sedalam cowok pertama. Tetapi karena cowok pertama benar benar mencintainya, dia berusaha setengah mati agar sang cowok kedua tetap menjadi pacarnya. Dia berusaha membahagiakannya dengan memberikan semua padanya. Limit kartu kredit, kebebasan, waktu dan semuanya. Tetapi karena memang sang cowok kedua perasaannya ke cowok pertama bukan cinta seperti yg dirasakan cowok pertama, tentu itu tidak akan bertahan. Ketika ada cowok ketiga yang kebetulan menarik hati cowok kedua, dan mereka sama sama mencintai satu sama lain, akhirnya pergilah cowok kedua meninggalkan cowok pertama untuk bersama dengan cowok ketiga

Akhirnya cowok pertama patah hati, menarik diri, melakukan hal hal bodoh yg membahayakan diri sendiri. Kadang terbangun tengah malam untuk nangis. Dengar lagu adele nangis. Bengong sendiri di bawah shower nangis. pas liat tagihan kartu kreditnya nangis lagi

Sound familiar?

Bagi sebagian besar pria gay, mencintai seseorang itu memang bukan hal yang gampang. Pilihannya tidak banyak, terbatas, tertutup dan sulit. Jadi ketika udah sreg sama satu cowok, dan tuh cowok sepertinya juga suka, langsung deh pol pol-an ke cowok itu. Sekalipun dalam hati tahu bahwa sang cowok tersebut mungkin perasaannya ke dia sebenarnya rada gamang. Tetapi dia langsung berusaha membuat dia berubah dengan menghujani dengan hadiah, perhatian dan berbagai macam hal lainnnya. 

Yah cinta kadang bisa tumbuh karena dipupuk oleh perhatian. Tetapi prosesnya ga gampang. Dan bukan proses pasti. Kalau memang pada dasarnya mentok segitu segitu aja, kadang yah terbutakan oleh berbagai macam hadiah, dan si cowok kedua memilih untuk tetap bersama. Jadi sampai akhirnya ketika dia bertemu dengan cowok ketiga yang benar benar dicintainya, tentulah dia akan meninggalkan cowok pertama

Kalau itu kejadian, siapa yang salah?

Sama sama salah, dan sama sama ga salah sih. Sama sama salah karena sama sama tidak jujur terhadap diri sendiri dalam menghadapi kenyataan. Cowok pertama udah tahu bahwa cowo kedua ga punya perasaaan yang sama, dia memaksakannya untuk tetap bersama dengan cara menutupi rasa ragu cowok kedua dengan berbagai macam barang barang hadiah. Sementara cowok kedua terima terima saja semua hadiah tersebut padahal dia tahu bahwa semua ini diberikan oleh cowok pertama demi menumbuhkan cinta untuknya, sekalipun mungkin dia lebih menikmati hadiah daripada kehadiran sang cowok pertama.

Tetapi dua duanya juga ga salah karena cowok pertama bertindak atas nama cinta dengan penuh kerelaan memberikan semua itu ke cowok kedua dengan harapan sang cowok kedua bisa terus menjadi miliknya. Cowok kedua juga tidak salah karena ketika dia benar benar menemukan cowok ketiga yg dicintainya, dia memilih untuk mengejar cintanya

Jadi kesimpulan mereka sama sama salah karena ego masing masing, dan sama sama nggak salah karena perasaan cinta yang menggerakkan hati mereka masing masing

Tentu saja tidak semua kejadian serupa sesederhana ini pembagian perasaannya. Kadang yang terjadi jauh lebih kompleks. Misalnya ternyata cowok ketiga mantan cowok pertama, atau cowok kedua mendapat transplantasi ginjal dari cowok pertama, atau ternyata cowok pertama itu sudah mengalami kisah yang sama berulang kali sebelumnya. 

Jadi ketika suatu hari kamu menjadi cowok pertama, atau cowok kedua atau cowok ketiga, ingatlah bahwa situasi seperti ini adalah bagian dari pahit manisnya hidup. Ga ada yang bisa kita rubah, ga ada yang bisa kita paksa. Cinta kadang membuat semuanya menjadi serba salah, walaupun kadang juga membuat semuanya menjadi begitu sederhana. 

Ketika kita menjadi cowok pertama yah belajarlah untuk terus menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan dalam hidup. Hidup itu ga pernah soal adil. Hidup itu soal perjalanan pahit manis sepanjang usia kita. Hidup itu soal pengalaman. Dan bahwa setiap air mata akan digantikan oleh suara tawa, walau kadang memang butuh waktu yg agak lama

Ketika menjadi cowok kedua ingatlah bahwa jujur itu penting kepada orang lain dan diri sendiri. Jangan menjanjikan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu apakah bisa kamu berikan. Jangan meminta ketika kamu tidak bisa membalas dengan harga yang diharapkan. 

Ketika kamu menjadi cowok ketiga, sadarlah bahwa sekalipun kamu menjadi pemeran utama yang memiliki kisah indah dalam hidupmu, sering ada pemeran pembantu dalam kisah tersebut yang tidak kamu sadari kepahitan hidupnya. Sukurilah setiap kebahagiaan yang kamu peroleh

6 komentar:

  1. barusan di lewati.. dan mungkin akan merasakan kembali seperti yg mimin ceritakan diatas...

    BalasHapus
  2. Begituu rumitnya duniaa hanya karna sebuah rasaa.. Cintaa... #NowPlaying ������������

    BalasHapus
  3. Pernah jadi pria pertama yang bener2 ngasih segalanya buat pria kedua. Sampai setelah 8 bulan berpasangan, pria kedua ternyata ketahuan masih mencintai mantannya. Pria pertama sempat meninggalkan pria kedua. Namun ternyata pria pertama masih ada rasa (walau hatinya tersakiti) dan mencoba memberikan kesempatan. Pria kedua lalu mencintai pria pertama, namun pria pertama sangat berhati-hati dan penuh curiga bahwa ia dibohongi lagi (tanpa ia sadari ia menyakiti pria kedua). Lalu pria kedua merasa perjuangannya sia-sia dan meninggalkan pria pertama.

    BalasHapus
  4. Nangis bacanya... dan yes am the "first man" :(

    BalasHapus