Minggu, 30 Oktober 2016

Sepasang pria berciuman di MRT Singapur mengundang kemarahan warga lain


Sepasang pria yang terdiri dari pria lokal dan pria bule berciuman di MRT singapur dan difoto oleh salah satu warga negara Singapur yang kemudian posting cerita dan keluhannya terhadap mereka di sini

Dia mengeluhkan pasangan yang memperlihatkan ciuman itu tanpa peduli orang lain karena dianggap menjijikan dan dia khawatir apabila anaknya bertanya kenapa ada cowok dan cowok berciuman. Dia juga merasa seharusnya para gay sudah cukup bersukur dengan diadakannya Pink Dot di Singapur dan para gay harusnya cukup sadar diri untuk berkelakuan "gay" di balik pintu kamar tidur masing masing saja, bukan di depan umum

Sebenarnya selama beberapa kali kunjungan ke Singapur sih selalu keliatan bagaimana komunitas gay di sana sebenarnya cukup besar, tetapi keberadaanya seolah olah dicuekin oleh pemerintahnya. Sauna dan Gay club beroperasi dengan terang terangan sekalipun Pemerintahnya masih memegang teguh hukum kuno kriminalisasi komunitas gay di sana. Dan selama ini juga terlihat bahwa lesbian lebih terang terangan menunjukan intimasi mereka di depan umum dibanding kaum gay

Dari sudut pandang banyak gay, serangan orang tersebut di link ini dianggap sangat homophobic karena menyebarkan ketidak senangannya atas dua gay yg berciuman di depan publik. Tetapi di sisi lain sebenarnya juga ketika kamu tahu bahwa di negara kamu memang masih banyak sentimen negatif terhadap gay, dan kamu berciuman di depan umum karena kamu merasa kamu berhak melakukan itu atau kamu akan menganggap orang lain homophobic ketika mereka tidak suka dengan apa yang kamu lakukan.

Sekarang coba kita pikirkan bagaimana kalau itu terjadi di Indonesia. Misalnya di tengah busway, ada sepasang cowok berciuman. Bagaimana kira kira reaksi orang. Dan ketika orang marah dan merasa ga nyaman dan jijik, siapakah yg salah? Jangankan pasangan gay, pasangan straight aja juga orang mungkin akan risih.

Jadi ketika ada yg merasa jijik dan marah marah melihat cowok berciuman di Indonesia, negara dimana hubungan sesama jenis tidak diakui, di mana mayoritas penduduk memiliki akar agama kuat dan banyak yang masih tidak mengerti hubungan sesama jenis, pantaskah dia disebut homophobic?

Beda sih kalau misalnya kita ke belanda. Di sana kamu bebas berciuman di tengah jalan baik antara cowok dan cewek maupun sesama cowok karena memang negaranya telah menyatakan bahwa hubungan antar sesama jenis adalah sah di negara tersebut. Sehingga ketika ada yg menyatakan bahwa mereka jijik melihat cowok berciuman di Amsterdam, tentu saja orang tersebut pantas disebut homophobic karena tidak seharusnya dia merasa seperti itu di sebut negara dimana hubungan sesama jenis seharusnya equal dengan hubungan yg berbeda jenis kelaminnya.

Sekarang untuk Singapur yg tidak sebaik belanda, tetapi tidak seketat kita, dan ada ibu2 marah sama sepasang cowok yg berciuman, pantaskah dia disebut homophobic juga?

2 komentar:

  1. Miiin,,,, katanya mau post hot daddy macem piolo pascual. I'm waiting...

    BalasHapus
  2. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Mungkin sudah banyak yg lupa peribahasa ini.
    Kegiatan pribadi cukup dilakukan di lokasi privat.

    BalasHapus