Minggu, 24 Januari 2016

Ketika mereka tidak mengerti



Di sekitar pukul 2 siang, image atas muncul di group Whatsapp kantor. Yang memposting foto tersebut adalah seorang wanita berinisial A

A : terus terang UI ga pernah menyetujui beginian. Heran dengan anak anak sekarang yang mengatasnamakan UI seenaknya
B : Iya, heran mereka terang terangan seperti itu. Ga malu apa dilihat orang
A : Aku udah confirm ke anak anak UI yang masih aktif. Mereka ga ada yang tahu menahu, dan jelas mereka akan ambil tindakan
C : Udah hancur memang negara ini. Hari ini mereka bikin bikin perkumpulan seperti itu. Besok ribut ribut minta kawin kali
B : Aku ga sukanya karena kalau yang ga normal gini kumpul, lama lama mereka malah nganggap kita yang nggak normal, dan mereka yang normal
A : Menurut aku langsung ditindak aja deh. Udah jelas kok itu nama namanya
D : Udah jelas jelas dilarang agama, homo homo itu tetap aja makin banyak. Pakai masuk masuk kampus cari mangsa lagi
A : jangan sampai deh yang ga normal normal ini bikin heboh demo demo ntar minta macem macem
D : tangkap aja kalau sampai berani demo mah mereka. Heran mereka orang tuanya gimana sih ngurus anaknya. 
B : mereka tuh ga bisa yah yg normal normal aja. Musti ngajak ngajak yang lain ikut ikutan. 
A : Cara pikirnya emang udah ga normal juga soalnya

A adalah lulusan summa cum laude hukum UI beranak 1 dari keluarga yang sangat taat beragama
B adalah Manager HRD yang juga menjadi koordinator misa jumat di gedung kantor
C adalah staf finance yang aktif di kegiatan sosial untuk edukasi anak jalanan
D adalah salah satu orang yang paling sering mengingat teman teman kantor untuk sholat

Diskusi singkat mereka masih panjang. Ada beberapa yang mencoba menengahi, tetapi langsung diserang oleh mereka. Sampai akhirnya ada satu teman memposting image ini


Setelah image ini muncul, satu persatu teman yang tadi diam, mulai memberikan emoticon "jempol" hingga akhirnya yang ribut ribut tadi terdiam semua. Group whatsapp kantor yang biasanya berisik akhirnya  hening hingga agak sore, ada yang posting soal anak kantor yang barusan lahiran


Kalau kita telaah baik baik Image di paling atas, sebenarnya mereka memiliki niat yang teramat tulus. 4 anak muda yang ingin menjadi tempat berbagi untuk mereka yang ingin bercerita. Tidak ada niatan lebih. Tetapi sepertinya tidak semua orang bisa melihat niat mulia di balik kata LGBT itu. Padahal mereka berempat sudah begitu berani memperkenalkan diri dan membuka diri mereka untuk menjadi teman untuk sesama LGBT yang ingin tempat bercerita.

Dan tampaknya mereka yang sering kita kira cukup berpendidikan dan cukup ber"moral" untuk membedakan yang baik dan benar, ternyata belum tentu memiliki kemampuan itu.

Ditambah lagi Menteri Riset, teknologi dan Pendidikan Tinggi (ironis yah) Muhammad Nasir yang mengkritik LGBT sebagai perusak moral bangsa. Di tambah lagi berita di media yang semakin memojokkan LGBT dengan menuduh LGBT menggunakan modus-modus seperti buku, sosial media hingga lembaga konseling seperti SGRC UI untuk merekrut

Benar sih ada LGBT yang merusak kredibilitas komunitas LGBT lewat berbagai kelakuan yang membuat kita ingin ikut menonjoknya seperti di bawah ini

Please note dia post ke G-Jatim, Grup FB untuk Gay di Jawa Timur
Tetapi ada begitu banyak juga dari komunitas LGBT yang ga muluk muluk minta hak untuk menikah sesama jenis atau Gay pride. Komunitas LGBT yang tulus hanya ingin mengedukasi sesama LGBT untuk bisa melindungi diri sendiri dan untuk menjadi lebih baik.  Komunitas LGBT yang hanya ingin agar sesama LGBT di Indonesia punya tempat bercerita, tempat untuk membuktikan fokus masyarakat selama ini yang hanya ke segelintir LGBT yg bermasalah itu adalah salah.

Coba bayangkan ketika ada situasi sebuah kalangan minoritas yang diburu oleh mayoritas atas sesuatu yang memang adalah identitas mereka. Ketika di dalam ketakutan, dalam kebingungan, kemana mereka harus berpaling. Tentunya ke sesama komunitas minoritas yang bisa menawarkan mereka perlindungan, pencerahan diri dan juga yang paling sederhana, yaitu sekedar tempat bercerita dan berbagi

So, please. Jangan salah tanggap dengan niat sederhana kami yang cuma ingin memberikan dukungan dan support kepada mereka yang kebingungan. Jangan anggap kami selalu punya niat busuk untuk merekrut dirimu. Jangan anggap kami berbeda, karena kita semua masih sama sama manusia biasa kok


17 komentar:

  1. keren banget jadi pengen ikut gabung

    BalasHapus
  2. Skrg lg heboh buat dbubarin dan pemerintah skrg juga ikut campur .. bgmn hrs melihat hal ini dg bijak ??

    BalasHapus
  3. Skrg lg heboh buat dbubarin dan pemerintah skrg juga ikut campur .. bgmn hrs melihat hal ini dg bijak ??

    BalasHapus
  4. Aku bingung teman teman...

    BalasHapus
  5. Teman teman ...aku recom film pray for bobby ..itu kisah nyata seorang anak yg coming out kepada keluarga,dan melibatkan agama juga..ini film bisa buat contoh untuk orang tua kita keluargaa dan para pemuka agama..smoga bermanfaat.Gbu guys

    BalasHapus
  6. miris..apakah normal berarti harus sesuai paradigma? paradigma yg mana? norma sosial? norma yg mana? sedang hati dan pikiran cenderung menulikan semua itu..terhimpit dlm depresi,atau kepura2an,ada jg yg menjd penjahat kelamin sana sini jos,apakah semua itu yg di namakan normal? normal menurut siapa?
    saya salah1 korban bullying dr kecil,tiada teman yg menerima..sampai detik ini..dunia maya mnjdi pelarian..temn2 yg mengulurkan tangan..membuka hati..membagi waktunya tuk hanya jd tempat cerita..menjd sahabat real..apakah harus jg normal? sedang yg katanya normal tidak mau menerima saya apa adanya..saya mahluk sosial wlw menjdi apatis akhrnya..saya masih percaya Tuhan dan menjlnkn ibadah..
    normal itu seperti apa? haruskan saya normal? sedang perasaan saya berbeda..otak saya hanya ingin diterima apa adanya..tanpa penilaian negatif dan bullying..terima kasih ,stdknya ada sdkit cahaya dlm gelap..stdknya saya tahu saya sprti ini dan saya tdk sendiri

    BalasHapus
  7. Saya pikir hidup bukan mengenai kamu straight atau gay tapi lebih impact positif apa yang bisa kau berikan terhadap orang2 disekitar. Menurut aku seseorang yang akan masuk surga nantinya akan memiliki 3 komen utama (1) Ternyata surga itu luar biasa indah tempatnya (2) orang yang kita pikir akan ada di surga ternyata tidak ada (3) orang yang kita pikir tidak akan masuk surga ternyata ada di surga. Intinya penghakiman milik Tuhan dan kita diciptakan untuk mengurus hidup kita agar lebih baik, bukan menilai orang lain tanpa memahami "sepatu" yang mereka gunakan. Hari ini juga baca tulisan dari salah satu blogger politik fave aku denny siregar mengenai LGBT di FB... sedih juga beliau menulis hal demikian tanpa memahami... langsung hilang respect...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapapun kamu, suka sekali dengan 3 Komen utamanya :)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  8. Terkadang berkaitan dengan hal-hal yang kaya gini, bikin gw ngerasa kalo posisi gw gak jauh beda kaya mutan-mutan di film X-Men. Ada satu bagian dimana yang ingin di perjuangkan oleh Magneto adalah memberikan kesempatan untuk kaum minoritasnya. Dan terkadang ketika gw lelah untuk memperjuangkan sesuatu gw selalu balik lagi teringat bahwa gw gak bisa stop disini karena yang sedang gw perjuangkan bukan cuman gw tapi juga beban-beban temen yang punya hal rahasia kaya gw dan beban mereka ada di pundak gw. dan suatu saat gw pengen kalo di sini, di indonesia, bisa ada tempat atau komunitas agar LGBT paling tidak punya suatu tempat untuk menyampaikan unek-unek dan kebingungan mereka.

    BalasHapus
  9. Stigma orang Indonesia nampaknya masih menuntut budaya timur yg agung. Yg mana menjunjung moral lebih baik dibanding Barat. Nyatanya, banyak disekeliling kita yg dibilang normal lebih merusak bangsa dibanding LGBT yg hanya sekian persen dri jumlah penduduk Indonesia. Dan pada kenyataannya, kehebatan kehebatan LGBT akan langsung tertutup oleh noda LGBT sendiri dengan tindakan negatifnya. Jadi menurut saya, kita yg LGBT harus lebih bijak bersikap juga. Agar LGBT gak dipandang sebelah mata.

    BalasHapus
  10. Yang penting ga merugikan gitu aja beres. Bukannya budaya Timur itu saling menghormati ya? Masalah agama hak individu dan semoga Indonesia semakin bijak serta cerdas. 😊😊😊

    BalasHapus
  11. Budaya Indonesia sebenarnya permisif terhadap LGBT. Lihat ludruk, warok, bissu dll.

    BalasHapus
  12. Blogger ulya an-nada berkata...

    dilema juga kalau bicara masalah seperti ini di Indonesia. cinta dan perasaan tidak bisa dipaksakan. untuk menjadi istimewa atau tidak itu pilihan. (aku tidak menyebutkan yg istimewa yang bagaimana, yang tidak bagaimana. itu sesuai pemikiran yg membaca).
    yang pasti, aku berfikir, kita harus saling menghormati dan menghargai pilihan masing2. kl kita bisa menghargai semua agama, semua suku, budaya, yg berbeda dg kita, knp kita tidak menghargai mereka juga....
    sejujurnya, aku bukan org yng mendukung mereka dg menggembar gemborkan atas nama HAM, atau selalu mengibarkan bendera pelangi. tapi aku juga bukan org yang menganggap mereka seperti hama sawah yang harus dibasmi.
    tp aku org yang cinta damai, cinta perbedaan, karena perbedaan itulah kita menjadi indah.


    ^_^ salam damai.......

    jgn sedih terus ya teman-teman...

    BalasHapus
  13. Menurut gue yg ngerasa bener" di buly dan di diskriminasi dari masyarakat itu bunga nya LGBT (cowok ngondek) . Udah diteriakin banci, dimana" dicibir. Nyampe cari pacar ajah nyerah dengan caption no ngondek.. kasian sebenernya, harus nya untuk menghentikan diskriminasi dan menuntut persamaan hak. Kita harus menguatkan ikatan LGBT itu sendiri. Karena masih banyak diluar sana yg terdiskriminasi dengan lingkungannya sendiri. Dan lakukan lah kegiatan positif yg gak cuman nuntut kawin.

    BalasHapus
  14. Well well,, , seperti kata pepatah,, "yg mampu merusak suatu kaum adalah kaum itu sendiri",, pandailah memantaskan diri,, bekerjalah,, berkaryalah,, karena pada akhirnya hal-hal itulah yg akan dipandang orang terlepas apapun predikat Kita.. .

    BalasHapus