Minggu, 01 November 2015

Siapkah kita untuk Gay Marriage?


Beberapa bulan lalu ketika pernikahan sesama jenis diresmikan di Amerika Serikat, seluruh dunia ikut bersorak sorai merayakannya. Euphoria dan gegap gempita terasa hingga di Indonesia. Pada saat itu banyak yang langsung berandai-andai apabila pernikahan sesama jenis itu juga diresmikan di Indonesia. Pasti akan terasa lebih indah. Hidup kita pasti akan lebih lengkap. Dan berbondong-bondong orang pasti akan melakukannya.


Tetapi ketika kemarin kita membuat sebuah polling sederhana di twitter yang menanyakan kepada follower kita kalau pernikahan sesama jenis tersebut sudah diresmikan di Indo skrg, apakah mereka mau menikah dengan cowok? Apakah mereka mau menggunakan kesempatan ini untuk mengikat hubungan resmi dengan seorang cowok di negara ini?

Surprisingly lebih banyak yang tidak mau sih. 53% lebih memilih untuk tidak menikah dengan cowok sekalipun negara kita akan meresmikannya. 47% menyatakan bahwa mereka akan melakukannya. Sekalipun perbedaannya tidak terlalu signifikan, tetapi menarik sih hasilnya mengingat hebohnya kita semua ketika pernikahan sesama jenis diresmikan di US.

Ketika ditanya, mereka yang memilih untuk tidak menikah memiliki alasan yang rata rata sama, yaitu keluarga. Banyak yang masih merasa perlu menikah demi keluarga, demi menjaga nama baik keluarga, tidak ingin mengecewakan keluarga, dan merasa keluarga tidak akan sanggup menerima kenyataan apabila mereka memilih untuk menikah dengan pria. Ada sebagian kecil yang tidak mau menikah karena memang tidak percaya dengan ikatan pernikahan sih. Ada juga sebagian kecil yang merasa pernikahan harus tetap antara pria dan wanita.

Sepertinya sekalipun apabila pernikahan sesama jenis di perbolehkan dalam 1 - 2 tahun ke depan (which is ga mungkin juga) , banyak dari kita yang sadar bahwa keluarga, terutama orang tua sebagai salah satu bagian penting hidup kita tidak akan bisa menerima apabila kita menikah dengan pria. Mungkin apabila 30 tahun lagi ketika orang tua kita sudah meninggal, dan kesempatan itu ada, kita akan berpikir-pikir lagi.

Tetapi untuk bisa benar benar menikah dengan sesama cowok di Indonesia, dengan siap mental maupun siap hukum sepertinya butuh satu generasi di Indonesia untuk benar benar bisa melakukannya dengan sepenuh hati.

Yah ga papa lah yah. We're not in any rush anyway. Toh kita sadar kesempatan itu masih lama juga kok untuk sampai ke Indonesia.

Meanwhile, let's celebrate what we have, cause it ain't too bad anyway:)

3 komentar:

  1. ya intinya cari pacar dululah.. baru mikirin nikah.. :D

    BalasHapus
  2. Maaf komen di luar isi artikel nih. Lagi rame soal hate speech. Dan gw baca satu poin yang lumayan bikin senang. Selain hate speech mengenai SARA, orientasi seksual juga termasuk. Yah, kalaupun menikah gak dibolehin, paling tidak kita LGBTQ dilindungi secara hukum ketika dihina atau perbuatan tidak menyenangkan karna orientasi seksual kita. Buat gw, itu udah lebih dari cukup untuk saat ini.

    BalasHapus
  3. Kembali ke kita, selama masih di Indonesia apakah status pernikahan itu penting? Apakah gak capek dipandang sinis lingkungan sekitar, biarpun bisa saja kita cuek, tapi kan ada batasnya juga.
    Toh banyak pasangan gay yang tinggal bersama tapi hepi-hepi aja. Selain urusan warisan dan sharing harta, semua masih bisa dijalani di Indonesia dengan nyaman.

    BalasHapus