Selasa, 20 Januari 2015

HSBC Boss : If I wasn’t gay, probably I wouldn’t be CEO


António Simões yg kini berusia 39 tahun adalah pemimpin tertinggi HSBC di Inggris dan dia sangat terbuka akan orientasi seksualnya sebagai gay. Dia kini tinggal di London bersama dengan suaminya Tomas yg keturunan Spanyol yang dinikahi di tahun 2007. António memang terkenal vokal dalam menyuarakan dukungannya terhadap komunitas profesional LGBT.

Baru baru ini dalam sebuah wawancara dengan koran di negara asalnya, Portugal dia mengatakan bahwa menjadi gay memberikan keuntungan tersendiri baginya di dunia profesional. Dengan menjadi gay dia merasa menjadi orang yang lebih autentik, lebih memiliki kemampuan untuk berempati, dan memiliki lebih kecerdasan emosional. Apabila dia bukan gay, dia merasa dia tidak akan menjadi CEO di HSBC UK. Dia juga merasa sikap dalam dunia perbankan yang selama ini kental dengan aura maskulinitas semakin berubah menjadi lebih fleksibel


Sebenarnya memang banyak pihak yang mengatakan gay dapat memberikan sumbangsih yang lebih baik dalam dunia profesionalitas dibanding straight. Tentu saja ini berlaku apabila kita lihat secara kasar dan menyeluruh tanpa membandingkan pengalaman, pendidikan dan kerja keras masing masing individu. Gay dianggap dapat lebih berkomitmen dan bekerja lebih keras dalam membuktikan kemampuan dan eksistensinya dibanding teman kerjanya yang straight

Ada juga teman HRD yg mengatakan dia senang dengan karyawannya yang gay karena mereka jarang cuti dadakan untuk kepentingan keluarga seperti karyawan straight. Tentu saja cuti adalah hak semua karyawan, tetapi produktivitas kadang memang tergantung dari kehadiran karyawan. Dan juga banyak dari teman teman gay yang karena tidak memiliki keluarga, mereka biasanya lebih fokus dan dapat bekerja keras sampai kadang lembur terus terusan dibanding teman kerjanya yg straight. Kadang kerja lembur bukan menjadi indikasi pekerja yang lebih baik sih, tapi fokus dan waktu kerja yg lebih lama mau tidak mau membuat pekerja gay memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding teman kerja yang harus pulang tepat waktu untuk menemani keluarga. Belum lagi pekerja gay kerap dianggap bekerja lebih keras karena mereka ingin membuktikan bahwa menjadi gay tidak akan menjadi halangan untuk mereka dalam berprestasi dalam dunia kerja. Teman HRD menyamakan prestasi kerja pekerja Gay dengan prestasi kerja pekerja wanita yang tidak berencana untuk berkeluarga karena sama sama memiliki fokus tunggal dalam pekerjaannya, yaitu prestasi kerja.


Hal hal seperti ini memang kadang membuat pekerja gay lebih menonjol prestasinya dibanding pekerja straight kalau kita pukul rata secara kasar yah. Apalagi pekerja gay sering dianggap dapat menyeimbangkan pengambilan keputusan dengan dasar logika yang cepat seperti seorang pria dengan pertimbangan emosional dan empati sebagai mana layaknya seorang wanita. Kombinasi yang kerap tidak diperoleh dalam pekerja pria yang cenderung cuek maupun pekerja wanita yang cenderung emosional dalam mengambil keputusan.

Jadi kita sebagai gay, seharusnya kita bisa memanfaatkan "kelebihan-kelebihan" kita tersebut untuk memacu karir kita. Mungkin saat ini tidak banyak contoh pemimpin gay dalam dunia karir yang dapat membuktikan dan memberi contoh bahwa menjadi gay akan membuat kamu lebih berpotensi untuk melesat dalam dunia kerja. Tetapi tidak ada salahnya kan kalau kamu memupuk kerja kerasmu sekarang dan membuat dirimu sendiri menjadi contoh untuk orang lain:)

2 komentar:

  1. ada poin menarik ttg 'Apabila dia bukan gay, dia merasa dia tidak akan menjadi CEO di HSBC UK'

    bisa dijadiin pertanyaan di diri sendiri
    bila gw bukan gay, gw ga akan bisa menjadi penengah konflik keluarga
    bila gw bukan gay, gw ga akan bisa membuat rumah jadi menarik
    bila gw bukan gay, gw mungkin lebih frustasi hadepin bokap
    spertinya akan jadi daftar yg panjang ... :))
    <3

    BalasHapus
  2. Sesuai slogan internal nya "The Best Place to Work". Bahkan ada satu pasangan yg sudah open di HSBC Indonesia, yg keduanya adalah Head of Department.

    BalasHapus