Sabtu, 20 Desember 2014

Webseries : "CONQ Episode 7 - A Night to remember"



Sepertinya setiap review episode baru Conq selalu dimulai dengan kata-kata "Akhirnyaaaa muncul jugaaa". Itu adalah sebuah petanda bahwa setiap episode memang selalu ditunggu-tunggu karena skrg ini adalah salah satu web series yg paling berusaha menampilkan kehidupan gay di Indonesia, atau lebih tepatnya jakarta sih. Memang sih, setiap kali di review selalu ada kritik dan pujian. Tetapi kita harus selalu ingat untuk angkat topi bagi seluruh tim yg sudah berusaha keras memproduksi web series ini. Tingkat keseriusan penggarapannya begitu tinggi bahkan sekalipun jika kita bandingkan dgn web series terkenal lainnya dari luar negri.

There are so many thing that I love in this episode and so many thing that I wish could be a little bit more. Let me list it out thing that I love

1. Dokternyaaaaaaaa. Impian semua kita kali yah di periksa oleh dokter cakep dengan brewok tipis seperti ini, apalagi yg ga protes ketika kita pegang-pegang tangannya. I wish he will be featured in future episode. Ga jadi pemain tetap juga nggak papa. Cukup jadi salah satu org yg ditolak Lukas aja krn ga bisa lupain Aghi.  Biar kita semua yg menonton bisa mengutuk ngutuk Lukas yg begitu bodoh menolak sang dokter. Padahal dalam hati kita semuanya setengah bersukur karena merasa jadi punya kesempatan dengan sang dokter, sekalipun dua menit kemudian baru tersadar itu cuma aktor yg sedang akting doank semua.

2. Karakter siti yg jilbaban tetapi punya simpenan "rempah rempah" dan ikutan clubbing ke apollo. This woman should stay as regular character. But I need a bit more bitchiness and random wisdom seperti kutipan ayatnya. And I like it how Siti is not portrayed as a girl that named Jessica atau Caroline yg cuma menjadikan Timo dan Lukas sebagai aksesoris "gay best friend"nya

3. Badan Timo yg makin jadi, atau emang selama ini ga ke notice yah? Tapi juga suka bgt bagaimana penggambaran Timo di rumahnya dengan rambut belum tertata yg sangat casual. Terlihat banget bedanya Timo versi "tampil" dan versi "rumahan". Beda banget ama lukas yg kayaknya sama berantakan rambutnya dalam kondisi apapun (Rizal ayo gunting rambut, dah gondrong!)

4. Sutingnya semakin rajin melanglang buana. Yah ga sampai buana sih, tp lumayan keliling Jakarta kayaknya. Suting di sevelnya pasti diam diam yah. Rada susah soalnya minta ijin suting di situ. Trus yg di apollo itu pas beneran malam clubbing apa memang suting khusus untuk terlihat keramaiannya yah? Soalnya kalau beneran suting pas lagi ramai ramainya, jadi kebayang repotnya ngumpulin release form dari masing masing orang yg keliatan mukanya di adegan clubbing itu. Tp kalo beneran crowdnya dikumpulin khusus buat suting, mayan kebayang effortnya ngumpulinnya juga.

Yang agak agak bikin hmmmm
1. Ga ada cerita khusus di sini selain pesan bahwa Lukas diputusin Aghi dan temen temennya sayang ama dia. Padahal dah penasaran banget soal masa lalu Aghi. Si Aghinya dah ngak bisa ikutan suting yah? Apa emang lagi sibuk? But I really wish a proper argument with more background detail karena yg ceritanya seperti Aghi itu banyak banget. Terutama krn perjalanannya dari regular boy toy sampai kena HIV dan jadi aktivis itu menarik banget. It should have lots and lots of story there.

Bukan berarti cerita yg skrg jelek sih. Tp kisah Lukas nangis-nangis, dihibur, dan akhirnya teringat kembali dengan Aghi berasa agak singkat. Itu ga terlalu berasa bikin conclude sebuah jalan cerita untuk sebuah episode, bahkan untuk sebuah web series. I just wish they elaborate more about pesan whatsapp yg diterima Lukas sambil merajut (sastra rusia dan merajut? I am really looking forward for Lukas numbuhin kumis, make mesin tik dan minum dari mason jar biar makin komplit journeynya menjadi hipster)

2. Weed? Tau sih itu banyak di pakai "anak muda Jakarta". Tetapi sebagai web series gay pertama di Indonesia, dan juga yg pertama berani menampilkan pasangan yg HIV positif dan yg negatif, sepertinya "pesan moral"nya agak sedang di turunin demi tidak terlihat terlalu "preachy". Soalnya web series ini sudah menjadi serial yg di tunggu oleh gay se indonesia. Bukan hanya oleh Gay Jakarta yg memakai kaos givenchy palsu sambil nongkrong di d'journal Grand Indonesia. Tetapi juga gay di wonogiri yg ibunya ketua PKK, atau gay di Pontianak yg ga kuliah karena disuruh bantuin bokapnya nerusin usaha bakmi kepiting atau bahkan mungkin gay di pesantren Banten yg menonton ini sambil diam diam di toilet.  Bagi mereka, hidup di Jakarta adalah gambaran glamour yg sangat berbeda dengan keseharian mereka. Dan mereka melihat series ini sebagai acuan harapan mereka untuk kehidupan yg lebih bebas di ibu kota. Tetapi dengan penurunan kadar "pesan moral" ini agak disayangkan kalau sampai membuat mereka memiliki persepsi salah dalam acuan harapan mereka itu.

Memang agak orba yah kalau kita mengharuskan semua tontonan ada "pesan moral". Tetapi setelah berhasil membuat org mau ikut pemilu dengan episode khusus kemarin, dan juga berhasil membuat orang orang sadar bahwa pacaran dengan HIV + itu bisa dilakukan, serial ini jadi memiliki sebuah beban untuk menjadi sarana belajar bagi penontonnya yg masih awam mengenai dunia gay. Gay stigma is not only about HIV kok, masih banyak stigma serius lain yg menjadi tanggung jawab mereka yang memiliki influence di komunitas ini.

3. Ondel-ondel. Well, it was a very good personification of a couple krn terlihat sepasang. Dan juga bagus untuk menunjukkan budaya betawi. Tetapi I wish it could be more dramatic, karena kurang berasa "pasangan". Mungkin misalnya instead of clubbing, mereka bisa ke karaoke to sing their heart out sambil minum2. Dan misalnya di saat Lukas sudah terlihat lupa dgn kesedihannya, dia keluar mau ke toilet dan secara ga sengaja melihat pasangan di ruang sebelah yg nyanyi lagu "Cruisin'" nya Gwyneth Paltrow dan Huey Lewis . Sekalipun nyanyinya fals banget dan ga ada merdu merdunya sama sekali, tetapi pasangan itu melakukannya sambil ketawa ketawa bahagia. That kind of couple happiness yg mayan "menohok" sih.

But there're a reason why I am not producing any web series. Mungkin ondel ondel itu lebih tepat karena less cheesy yah dibanding skenario karaoke tadi. Jelas bahwa menyewa ondel ondel buat tampil itu adalah pertimbangan panjang dari tim produksi yg pastinya sudah dipikir matang matang sih. Tapi tetep merasa itu harusnya lebih "dalem" untuk bikin seorang Lukas keinget tiba tiba lagi kisah cintanya yg kandas setelah euforia pesta-pestanya. Mungkin juga karena kebiasaan liat ondel ondel jadi jadian yg hobi minta minta duit di lampu merah jadi agak susah mengasosiasikan mereka dengan hal positif yah

Anyway.... I am glad we have our last episode in 2014. Keep in coming guys:)

5 komentar:

  1. To be honest, kecewa banget ama episode ke-7 ini... Kelihatan mentah dan buru2 banget, gak carefully thought seperti episode2 sebelumnya. Gak suka dengan stereotyping gay yang kalo lagi galau selalu melakukan kebiasaan yg merusak diri sendiri, seperti konsumsi weed dan minum alkohol.

    BalasHapus
  2. Sakit bgt ga sih, lo udh nerima org apa adanya (termasuk kondisi status mereka), tapi mereka ga bisa ngehargai kita sedikitpun?

    BalasHapus
  3. Gak ngerti faedahnya apa, Conq episode 7 ini, buat umat gay bangsa ini.

    BalasHapus
  4. jilbab? clubbing? minum? punya 'rempah-rempah' dan ngutip ayat? pffftt. VERY LOW.

    gak tau mau nampilkan apa sutradara nya? sinis? i am sorry, the director is waaaayyy off base.

    BalasHapus
  5. 'gay di Pontianak yg ga kuliah karena disuruh
    bantuin bokapnya nerusin usaha bakmi kepiting'
    ??? hhmmm

    BalasHapus