Sabtu, 27 Desember 2014

Kisah Yebin dan Anwei, pasangan gay yg hidup bertani di desa kecil


Adalah impian semua gay untuk bisa hidup bersama dengan kekasihnya sampai hari tua. Tentunya akan lebih sempurna apabila semua itu atas restu orang tua. Tentunya hal seperti itu tidak bisa diperoleh dengan gampang. Apalagi untuk pasangan gay di negara kolot seperti Cina


Perkenalkan Anwei dan Yebin, sepasang gay yang hidup bersama di sebuah kota kecil di daerah Hebei, Cina. Mereka tinggal bertetangga dengan orang tua Yebin dimana selain bertani mereka juga menghidupi "keluarga" mereka dengan membuka warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kehidupan mereka jauh dari hingar bingar dan glamour yang sering identik dengan keseharian kehidupan gay. Sebaliknya, mereka menjalani hidup tenang dan sederhana tanpa clubbing maupun ngumpul ngumpul dengan geng gengnya sambil berselfie ria dan minum minum cantik. Mereka menjalani hidup sebagaimana layaknya keluarga kelas menengah kota kecil di Cina. Sepertinya kehidupan seperti itu bukanlah pilihan yang jelek, terutama untuk mereka yang memang mencari pasangan hidup untuk menikmati sisa hidup bersama. Apalagi keluarga mereka masing masing telah mengetahui dan menerima kebersamaan mereka. Terdengar menyenangkan bukan?


Tetapi kehidupan mereka seperti sekarang ini bukannya tanpa perjuangan. Semua yang mereka miliki sekarang ini adalah buah drama, peluh dan airmata bertahun tahun. Yebin sendiri pernah menikah dengan seorang wanita di tahun 2004 hasil perjodohan orang tuanya. Tetapi karena memang dia tidak tertarik dengan wanita, dia telah berpisah ranjang dengan sang istri sejak bulan madu. Sekembalinya dari bulan madu, sang istri minta kembali ke rumah orang tuanya. Sejak itulah beredar kabar bahwa Yebin tidak tertarik dengan wanita. Karena panik orang tuanya mengupayakan berbagai hal agar anaknya sembuh. Mulai dari dukun pengusir setan sampai psikolog telah dicoba oleh Yebin. Tetapi akhirnya hati sang Ibu luluh juga setelah melihat semua usaha tersebut tidak membuahkan hasil. Apalagi ketika dia mengetahui cerita mengenai cowok Yebin yang meninggal karena kecelakaan.

Keluarga besar Yebin, dengan sang Ibu yg jagoan dan adik Yebin yg anaknya akan mengasuh Yebin juga ketika tua
Anwei sendiri sekalipun tidak sedramatis Yebin, tetapi dia juga hidup dalam kekhawatiran dan ketakutan. Sampai akhirnya suatu hari dia bertemu dengan Yebin di salah satu Instant Messenger, yang membuat dia meninggalkan semua kehidupannya di kota asalnya dan pindah untuk tinggal bersama dengan Yebin mengurusi tanah pertanian keluarga Yebin


Ibu Yebin juga mengambil inisiatif membuat semacam kontrak antara Anwei dan Yebin karena dia tahu mereka berdua hidup tanpa ikatan hukum perkawinan. Dalam kontrak tersebut dikatakan apabila salah satu dari mereka meninggal atau mereka berpisah, maka semuanya akan dibagi sama rata. Dan keponakan Yebin juga sudah bersedia mengurus pasangan Yebin Anwei ini apabila mereka telah tua mengingat mereka berdua tidak mempunyai anak. Ibu Yebin ini juga sering berkomunikasi dengan Ibu Anwei untuk memastikan Ibu Anwei bahwa Anwei dalam keadaan baik baik saja. Ibu Yebin juga banyak membantu menyakinkan Ibu Anwei bahwa kehidupan seperti ini adalah yang terbaik untuk kedua anak mereka. Bahkan Ibu Anwei mengatakan bahwa dia bersedia untuk berbicara dengan orang tua lain yang memiliki anak gay untuk membantu mereka memahami apa yang akan mereka hadapi.


Kehidupan Anwei dan Yebin di kota kecil bukan berarti tanpa halangan juga. Dalam komunitas kecil di Cina seperti itu, semua orang saling mengenal satu sama lain. Dan status Anwei Yebin sudah bukan menjadi rahasia lagi. Omongan bahkan gunjingan sudah menjadi makanan sehari hari. Tetapi dengan bercerita mengenai kehidupan mereka ke orang lain terutama lewat jurnalis dan sosial media, mereka berharap komunitas gay, khususnya di Cina dapat melihat bahwa ada pilihan untuk mereka melanjutkan hidupnya. Sekalipun belum ada jaminan Happily Ever After, tetapi paling tidak mereka sudah memiliki kehidupan "normal" sebagaimana layaknya pasangan lain yg banyak diimpikan oleh pasangan gay lainnya. Apabila diberikan kesempatan seperti mereka untuk pindah ke kota kecil untuk hidup bersama dengan pasanganmu, mau nggak?





14 komentar:

  1. Sumpah ini keren. Terharu banget min bacanya. :')
    Hakikatnya kita memang harus menikmati hidup dengan siapa dan apa yang sudah kita pertahankan. Sangat menginspirasi min.
    Butuh banyak cerita yang begini bahwa gay tidak selalu diidentikan dengan hingar bingar kehebohan sana-sini ya min. At least we try to make a good senses with our life.
    :)

    BalasHapus
  2. Yaah ga ad suatu hubungan yg pasti happily ever after bahkan pasangan straight pun, dan menjawab pertanyaan terakhir, MAU!! Mau banget , apapun biar kita bisa sama orang yg kita sayang

    BalasHapus
  3. Iya mengharukan banget.. Semoga mereka bahagia selamanya ya
    Tuhan tidak pernah salah

    BalasHapus
  4. Keren penuh perjuangan banget ya.
    Wah cuma mimpi ini kalo di sini, di Indonesia dah dikeroyok FPI >_<

    BalasHapus
  5. Terus terang, satu kalimat yang paling mengena di artikel ini adalah:

    "Kehidupan mereka jauh dari hingar bingar dan glamour yang sering identik dengan keseharian kehidupan gay. Sebaliknya, mereka menjalani hidup tenang dan sederhana tanpa clubbing maupun ngumpul ngumpul dengan geng gengnya sambil berselfie ria dan minum minum cantik."

    Nightlife is NOT what defines being a part of an LGBT community is all about. LGBT artinya hak untuk bisa mencintai tanpa harus dibatasi oleh tetek bengek, dan itulah makna sejati perjuangan LGBT. Itu yang harus diinget sama semua orang.

    Bukan maksud merendahkan, tapi cerita diatas hanya salah satu dari sekian banyak cerita serupa yang sudah terjadi di dunia, dan sedikit yang bisa mendapatkan 'happy ending' walau belum 'happy ever after' (that does NOT exist, to be frank). Pray for the best for this couple, and all the other out there who have discovered their freedom to happy.

    BalasHapus
  6. Nih, ada ramalan tentang kehidupan kaum gay di tahun 2015, katanya di tahun kalangan gay akan lebih berani.
    http://m.jpnn.com/news.php?id=277893

    BalasHapus
  7. udah sering mendengar cerita psangan yg hidup bersama layaknya pasangan lainnya dari amerika dan eropa dmn gay sudah lebih bisa diterima dan dipahami.

    cerita ini memberi rasa dekat dgn kita di indonesia
    memberi semangat di akhir tahun 2014 dan memberi harapan baik di tahun 2015
    kesederhanaan hidup bisa menjadi kekuatan
    kesederhanaan membuat orang sekitar lebih mudah untuk memahami
    kesederhanaan itu ... cinta ^^

    BalasHapus
  8. Pastinya siapa sih yang ga mau hidup sama pasangannya berdampingan dengan keluarga dari dua belah pihak?

    Yang penting sekarang sih... Cari calon pasangannya dulu :'')

    BalasHapus
  9. So deep touched min, berharap masih bnyk lgbt yg mau kayak gini :)

    BalasHapus
  10. Ayo siapa yang mau menghabiskan hidup bersama bertani di desa denganku

    BalasHapus
  11. Hahaha...

    Cerita ini klop vanget dengan keinginanku...
    Hidup di desa bertani sama pasangannya...

    BalasHapus
  12. Satu kisah cinta gay yang 'great' menurutku.

    Tapi apa iya, ada anak muda yang mau diajak kembali ke desa dan hidup sederhana sebagai seorang petani? Lha wong anak muda (str8) yang hidup di desa saja pada lari ke kota karena tidak betah hidup menjadi petani.

    Gimana dengan gay (indonesia) yang rata-rata maunya hidup senang saja. Nggak ada salahnya sih memilih hidup enak, senang dan foya-foya selagi masih ada.

    Tapi yang ada sekarang, pencitraan belaka. Tak ada tapi diada-adakan. Bahkan dengan cara-cara yang tak halal.

    BalasHapus
  13. hidup di kota, di desa, atau di hutan sekalipun sebenernya hanya tempat. tergantung kondisi tiap2 org dan tiap2 pasangan
    mental utk menjalani dan komitmen hidup bersama yg harus siap apa punkondisinya.

    Ada pertanyaan buat diri gw sendiri sih, apakah gw cukup dewasa bisa masuk dlm kehidupan "berumah tangga" dgn melihat tmn, dan sodara yg udh nikah ... ga mudah. ada keinginan dan impian untuk bs mencapai kesana, dan bagi pasangan gay ada perjuang yang lebih utk sampai ke tahap itu dibanding pasangan lain.

    ketika sudah siap mental keduanya, kondisi apa pun, menghadapi org2 tedekat dan keluarga, ga semua mulus dan pertentangan pasti ada. seperti cerita itu, perjuangan dan air mata sudah banyak dilalui.
    gw sedikit tau gmn rasanya proses sampe keluarga lebih bisa memahami skrg dan cukup mensupport, butuh waktu bertahun2 tp gw merasa diberkati ga sampe drama2 airmata dalam prosesnya
    :)

    BalasHapus
  14. Cinta memang tak prnh salah,Tuhan jg prnh salah..
    Kamu aku jg tak prnh slah..
    Semua itu suci dan hatilah nnti yg bicara...
    Terharuu..!!!!

    BalasHapus