Sabtu, 25 Oktober 2014

Obsesi dengan validasi


Memang benar penampilan adalah hal penting dalam dunia gay. Sudah menjadi rahasia umum bahwa cowok gay berpenampilan lebih rapi dibanding pria straight pada umumnya. Tetapi standar penampilan sempurna itu semakin naik dari hari ke hari. 10 tahun yang lalu mungkin baju rapi dan parfum wangi sudah cukup menjadi standar "penampilan" cowok gay. Pujian dari teman gay ataupun yg straight sesekali sudah cukup membuat kita berbunga-bunga

Tetapi sekarang untuk tampil "sempurna" itu sudah semakin panjang persyaratannya. Mulai dari badan yang harus jelas berlekuk terpoles mesin mesin gym ditambah kulit muka dengan perawatan seharga cicilan motor, plus baju/sepatu/topi keluaran desainer yg ga boleh ampe kembaran. Tetapi itu ga selesai di sana. Penampilan sempurna itu harus mendapat validasi dari orang asing di social media berupa like/love sebanyak banyaknya. Kalau tidak ada yg love/like, maka penampilan penuh susah payah itu dianggap tidak ada gunanya.

Dan untuk mencapai itu, banyak yg rela melakukan apa saja. Mulai dari diet mati matian demi beberapa garis melintang di perutnya, sampai dengan hutang sana sini untuk cicilan sepatu keren demi bisa foto ala fashion blogger untuk instagramnya. Setiap kepedihan hati di saat membayar cicilan maupun rasa lapar yg menusuk, hilang begitu saja ketika ada orang asing yang tidak dikenal menekan tombol "love" untuk fotonya.  Dan biar para orang asing itu tidak bosen dan rajin memberi pujian, berbagai pose andalan telah disiapkan untuk menghiburnya. Mulai dari variasi close up muka dengan camera 360 sok imut dengan mata satu dipicing dan senyum dikulum, atau foto sok candid dengan pose ala bryan boy yg memperlihatkan seluruh outfit, plus close up fashion item mahal di tempat keren yg ditata berulang kali, dan sesekali foto setengah telanjang dengan tag line ga nyambung penuh iba minta dipuji (misalnya foto setengah telanjang dgn perut six pack, trus taglinenya "aku genduuuuttttt", atau foto jendolan obvious di balik celana ketatnya sambil bilang "warna celananya bagus yaaaaa")

Dan apa yang terjadi ketika love/like dirasa kurang? Komposisi dan angle postingannya aja yg diubah. Tinggal banyakin foto setengah telanjang sok candidnya dengan pose yg semakin ajaib. Kadang untuk memancing iba, kalimat tagline menjadi semakin mirip kutipan dari buku "Diary galau kaum alay". "You are nothing until you have more than 10 person like you when you "awake" on path", demikian kata salah satu teman yg sepatunya louboutin tapi pulsa aja ngutang.

Memang sih ada orang orang beruntung yg memiliki semua itu dan "sepertinya" tanpa usaha berat. Muka tampan dengan badan sempurna yang foto instagramnya selalu di tag di tempat asing yg pelafalannya susah di lidah Indonesia. Belum lagi baju baju kerennya yg sepertinya tidak pernah dipakai lebih dari sekali. Belum lagi teman temannya yang selalu berpesta bersama dengan potongan fisik yg sama indahnya.

Kacaunya, mereka ini lah yg menjadi panutan. Kehidupan seperti mereka lah yg mendorong semua berusaha mati matian untuk tampil serupa. Tetapi kan kita nggak tahu bapak si cowok keren itu usahanya apa. Kita ga tahu di balik foto instagram dan pathnya si keren itu terjadi apa saja. Kita ga tau kerja kerasnya yg tidak ditampilkan di foto seperti apa. Kita ga tahu keringat dan air mata seperti apa yg dibelakangnya. Kita cuma melihat indah indahnya. Kita cuma melihat sekelebat highlight dari hidupnya yang penuh dengan pesona. Ga adil donk membandingkan saat saat indah dalam hidupnya yang terpampang di foto sosial media dengan saat saat datar kehidupan kita.

Yah mungkin hidupnya memang sempurna. Atau mungkin itu cuma sebagian dari fragmen hidupnya di saat terbaik saja. Mungkin dia cuma cowok biasa yg berhasil meniru idolanya seperti kita mengidolakan dia. Mungkin dibaliknya semua tagihan kartu kreditnya dibayar oleh bapaknya. Atau bisa juga di bayar oleh "bapak-bapakan"nya. Atau mungkin dia kerja banting tulang sampai ngembat handphone teman untuk membayar semua properti fotonya. Atau mungkin dia memang hebat , bekerja sendiri dan membayar semua itu.  Mungkin dibalik tubuh six pack setengah telanjang itu dia ga punya modal apa apa. Tetapi bisa juga tubuh indah itu cuma satu dari sekian banyak berkah dalam hidupnya. Atau memang mereka memang ga pernah berniat pamer apa apa karena memang begitulah hidupnya apa adanya

Kita ga bilang sih usaha untuk tampil keren di instagram atau path atau twitter itu salah. Namanya juga dunia maya. Menjual pesona diri kepada orang asing adalah sajian utamanya. Tetapi seberapa jauh usaha yang rela kita tempuh untuk sampai di sana, itulah yg menjadi pertanyaannya. Sadar batas kemampuan diri itu jadi penting. Kalau muka dirasa cuma terlihat indah kalau settingan camera 360 udah pol semua, yah jangan dipaksa semua timeline diisi foto close up kamu semua. Bukannya nambah teman baru yang ada malah makin menjauh. Kalau belum sanggup beli Givenchy yah jangan maksa ngambil cicilan 12 bulan demi sehelai kaosnya. Kaos dari Dept Store matahari pun akan terlihat indah kalau memang kamu pantas mengenakannya. Jangan sampai juga kamu harus "meminta bantuan" dengan imbalan jasa sayang sayangan kepada mereka yang lebih mampu demi mendapatkan semua ini. Trus kalau berhasil dengan kerja keras memiliki tubuh indah, tidak ada salah memang dipamerkan. Tetapi bukan berarti posting foto pose sama depan kaca toilet tanpa celana sehari 3 kali seperti makan obat sakit kepala.

Validasi memang menambah kepercayaan diri. Dan validasi dari orang asing memang membuat kita menjadi merasa semakin merasa menjadi seperti orang terkenal yang dipuja puja orang tak dikenal di sekelilingnya.  Tetapi alangkah bijaknya semua usaha itu jangan sampai malah membuat kita terlihat seperti orang yg "terlalu" berusaha. Tampil indah dan dipuji itu memang bikin orang lupa segalanya. Tetapi ketika terlalu maksa untuk menjadi indah sampai mengorbankan segala galanya, apakah sebuah validasi itu masih menjadi imbalan yang pantas untuk semua usaha kita? Apalagi kalau pujian itu hanya berupa satu tekan tombol yang mungkin dilakukannya sambil setengah merem tanpa banyak usaha.

11 komentar:

  1. sayang sekali photo ilustrasi bukan gay lokal, pdhl akan lebih seru pastinya.. km bisa nulis gini krn melihat bnyk contoh.. knp gak contohnya aja yg dipasang.. khawatir kisruh? come on.. jgn cuma berani nulis.. hehe.. ;)

    BalasHapus
  2. Pandangan hidup yg selalu melihat keatas, jadi pemicu keinginan yg nggak ada abisnya. sekali-kali lihat kebawah

    BalasHapus
  3. it is what it is. salah atau benar, bagus atau buruk, who is to say?

    BalasHapus
  4. So sad....buat orang2 yg ngalamin ini. :-)
    Just be Natural.

    BalasHapus
  5. Orang-orang yang badannya sixpack tapi masih ngeluh kalo dia gendut itu minta banget dijejelin makanan

    BalasHapus
  6. Havent met one before :) Thank God

    BalasHapus
  7. Beruntung gw ga suka hal2 tersebut diatas. Semoga jg gw ga masuk dlm lingkungan kehidupan semacam itu. Bahagia yg dirasa cuma semu.

    BalasHapus
  8. Listen to Colbie Cailat's song, Try. It represents this.

    Http://olioegalio.blogspot.com

    BalasHapus
  9. baca pas sepatu louboutin bikin ketawa, punya temen cewek yg kyk gitu, buat makan gada duit, tp ke salon rajin dan dia punya sepatu alas merah itu, hahaha

    ada tmn yg punya path n istagram tmn2nya kl ada yg pasang foto, langsung di comment 'pencitraan' sm tmn2nya dan org2 ga dikenal jd ikut2an. dan itu cukup menular pada kolompok teman2 yg lain. ada 5 yg komen 'pencitraan' pasti yg punya foto eneg, hahaha
    dan kalo komen pencitraan, siap2 dilawan dengan keras sm yg punya foto dan teman2nya yg mendukung pencitraan

    pernah sih diskusi issue ini sm bbrp tmn dan ahli, psikologi. dlm lingkup umum. nyerempet2nya jadi ke revolusi mental sbg salah satu arah solusi, hehe
    bbrp contoh emg menjadi patogen perilaku kyk gitu dan butuh penanganan serius.

    dan tulisan ini mungkin bs memberi sedikit kesadaran, mgkn ada yg berniat ngerem dikit selagi ga keblasan

    jg skrg kita bisa liat org2 gay yg mendapat validasi itu krn prestasi yg nyata, di indonesia kita punya kok. yah ga bs dipungkiri semua yg berprestasi sudah come out. dmn sulit buat di ikuti buat yg lain

    bagi gay, dunia maya adalah ruang yg terbuka bagi ketertutupan identitas diri mjd tempat eksis dan kecenderungan mengarah pada obsesi dengan validasi. belum lagi secret life.

    ada baiknya kita saling mengingatkan, atau seperti admin blog ini yg udh sangat hebat. profilenya tertutup tp tetap bs eksis dgn berbagi banyak hal baik dan memberi inspirasi banyak org utk melakukan yg sama, dgn cara masing2 dan gw pikir lebih mudah ditiru sm yg lain.

    BalasHapus
  10. Belum pernah ketemu satu pun sih. Tapi pengen punya temen yg seperti itu. Pengen tau aja dari sudut pandang dia nya seperti apa.

    Thanks to mimin yg selalu buat postingan yg mencerahkan pemikiran. Sebetulnya sah-sah saja siapapun ingin bertindak/berperilaku/berpakaian seperti apa. Selama itu tdk mengganggu orang lain.

    Terutama LGBT seperti kita yang BELUM memiliki validasi di masyarakat, mungkin cara seperti itulah yg menjadi salah satu bentuk pencarian validasi. "Kalo gue tidak dapat pengakuan dari masyarakat (straight) setidaknya gue dapet dari sesama LGBT."

    Begitu sih menurutku. CMIIW :))

    BalasHapus