Senin, 22 September 2014

Brondong Versus Gadun


Berkat om@tindikalis hari ini kita jadi semangat membahas salah satu topik paling hot abad ini yaitu brondong versus gadun. Alias tarik ulur antar pria gay muda yg "katanya" sering minta dimanja dengan berbagai cara dan om gadun yg jago "memanjakan" brondong dengan berbagai kelebihannya.

Sebelum kiat share beberapa kasus, kita coba samain persepsi dulu yah soal brondong dan gadun di sini. Brondong sebenarnya itu golongan usia yg terhitung sejak usia legal sampai dengan usia lulus kuliah.  Sementara gadun biasanya berarti pria usia 40-an. Tetapi di dalam kasus pembahasan ini sepertinya batasan usia harus kita lupakan dulu karena di sini istilah brondong dan gadun agak ga terbatas usia. Brondong cuma menjadi kiasan untuk pria yg lebih muda dalam hubungan. Bisa anak 19 tahun, bisa cowok 34 tahun, selama dia menjadi pihak yg lebih muda di dalam hubungan. Sementara sang gadun juga bisa berumur 32 tahun maupun 62 tahun selama dia menjadi pihak yg lebih tua

Skrg kita punya 4 contoh kasus. Coba kita simak baik baik yah

Kasus Pertama
Ada si brondong A, pria berumur 24 tahun yg baru lulus kuliah, bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan asuransi. A adalah pekerja keras dan berasal dari keluarga yg sangat sederhana. Tujuan hidupnya adalah membeli rumah untuk sang orang tuanya yg selalu ngontrak sepanjang hidupnya. Trus ada si Gadun B, pria berusia 48 tahun cerai dengan 1 orang anak. B sebenarnya sudah merasa dia adalah gay sejak sebelum dia menikah. Cuma demi memenuhi keinginan orang tuanya sebagai anak tunggal dan pewaris kerajaan bisnis keluarga, dia menikah dengan calon yg telah ditentukan. Kini setelah kedua orang tuanya meninggal dia merasa ingin mencari pasangan hidup yg sesuai keinginannya.

Ketika si B kenalan dengan A mereka sama sama telah saling menyukai. A yg rendah hati selalu takut merepotkan B yang selalu ingin menjemputnya dari kantor. Apalagi ketika B ingin membantunya mencari kos yg lebih baik karena kosnya yg skrg susah dimasuki oleh mobil B. A selalu menolak ketika B mengajaknya makan di tempat mahal karena dia selalu ingin gantian membayar kalau makan. Sementara B yg kagum melihat A yg begitu pekerja keras dan sederhana memiliki keinginan begitu besar untuk membuat kehidupan A lebih gampang. Tetapi semua usahanya selalu ditolak halus oleh A yang tidak ingin merepotkannya. Pada saat ulang tahun A, B diam diam membelikan sebuah apartemen kecil atas nama A agar si A tidak usah terlalu jauh ke daerah kantornya. A serta merta menolak karena merasa tidak pantas dia menerima hadiah semahal itu. Akhirnya B mengusulkan bagaimana kalau A mencicil saja ke dia untuk apartemen itu. Akhirnya A setuju mencicil apartemen itu ke B. Akhirnya mereka membuat kesepakatan bahwa B akan seolah-olah tinggal di sana juga, sehingga B bertanggung jawab terhadap isi rumah, dan A menjadi pemilik apartemen itu. So far sih mereka berdua sama sama menikmati keberadaan satu sama lain

Kasus kedua 
Ada brondong C,  anak kuliah yg sedang skripsi berasal dari keluarga yang mayan berkecukupan. C hoby ke Gym dan juga memakai barang bermerek. Tetapi karena belum kerja dan orang tuanya agak keras soal belanja, C lebih sering memakai barang barang KW. Dengan muka seperti bintang film Korea dan six pack, C menjadi inceran semua orang. Ibaratnya kalau "awake" di path aja dia selalu menerima minimal 40 "love". Dia sebenarnya sangat ingin menjadi lebih dari sekedar "artis instagram". Trus ada D, pria berusia 38 tahun yg kerja sebagai brand manager retail ternama. Barang yang digunakannya selalu branded. Ibaratnya kalau topi udah Gucci, sampai ke dalaman juga musti Gucci. Dan paling ga afdol kalo memakai barang branded yg ga keliatan branded.

C dan D kenalan di tempat gym tempat mereka nge gym bareng. C yg kagum melihat pernak pernik D yg branded semua langsung seneng di ajak nongkrong bareng oleh D yg kagum dengan kegantengan C. Akhirnya mereka mulai dekat, dan C menjadi gandengan D ke acara acara sosialita. C selalu ikut tampil di majalah mahal dengan ikat pinggang Hermes pemberian D (asli tentunya). Sementara si D yg memang sudah openly gay bangga karena memiliki brondong secakep C. Tetapi karena di kalangan pergaulan D banyak yg mengincar C, si D selalu menghujani si C dengan berbagai barang branded. C yang menikmati kehidupan yg diimpikannya ini semakin bahagia dan lengkep dengan D yg membawanya meniti jenjang sosialita ini. Sampai akhirnya C di tawari main sinetron oleh seorang produser di acara launching produk mewah, dan D melarang C untuk menerimanya. D melarang karena dia tahu apabila si C sukses, maka si C ga akan butuh dia lagi. Karena khawatir si C suatu hari akan meninggalkannya, si D mulai diam diam mendekati beberapa brondong lain. Tetapi ketika C konfrontasi soal itu ke dia, dia mengatakan semua itu karena dia kesepian ditinggalkan oleh C yg semakin sibuk dengan kegiatannya. C yg merasa bersalah mengurangi kegiatannya dan berjanji lebih sering menemani si D. Tetapi karena C yg semakin sukses dengan kerjaan sampingan, D menjadi semakin rajin berkenalan dengan brondong lain karena takut ditinggalin. Tetapi setiap ketahuan, dia selalu menyalahkan C yg mulai melupakannya. C yg merasa semakin bersalah mulai dianggap sebagai kacang yg melupakan kulitnya oleh D dan teman temannya.

Kasus ketiga
Ada brondong E, 24 tahun yg terlahir dengan kelebihan fisik yg mendekati sempurna. Sekalipun jarang ngegym, perutnya six pack alami dengan pantat sekel mencuat. Dan tak kalah penting adalah fakta bahwa tak peduli celana seperti apapun yg dia pakai, jendolan di celananya akan selalu mencuri perhatian siapapun. E berasal dari keluarga biasa yg tidak kekurangan apapun. Trus ada si F, pria pengusaha bertampang biasa yg telah menikah dengan 2 anak usia SD dan tidak pernah merasa bahagia dengan pernikahannya. F selalu mencari pria secara diam diam untuk memuaskan kebutuhan seksualnya. Dalam istilah kaum Gay, F adalah seorang Power Bottom yg sangat menikmati rolenya dengan pria pria muda yang diajak tidur olehnya. F berkenalan dengan E di sauna 9M di ruang sauna yg gelap. Ketika berhasil memegang barangnya si E, F sudah langsung bertekad dia harus mengenal pria ini lebih jauh. F yang berhasil mendapatkan Pin BB si E gencar mengajak si F untuk ketemuan setelah kejadian di 9M.

Setelah berkali kali di tolak, akhirnya E setuju untuk di ajak makan malam di restoran Signature oleh F. F yang malam ini royal dalam mentraktir E mengatakan bahwa dia jatuh cinta padanya sejak di 9M, dan dia ingin membahagiakan si E. E yang meminta bukti cinta langsung diajak ke Cartier, dimana si F membeli sepasang cincin kembar untuk mereka kenakan masing masing. E yang mulai merasa nyaman karena F yg royal menerima ajakan si F untuk pacaran. Karena F yg cinta buta apalagi setiap kali mereka menginap bareng dan dia bermain "rodeo" menjadi sangat nurut dengan apapun permintaan F. E menjadi semakin menjadi jadi karena dia tahu F akan melakukan apapun agar dia tetap mau pacaran dengannya. Mulai dari membeli HP sampai akhirnya cicilan motor sampai dengan liburan ke HongKong di saat ulang tahun salah satu anaknya si F. E selalu berpikir bahwa setiap orang yg mau memacarinya harus menafkahinya dan menghidupinya karena dia percaya dia patut untuk dimanja sebagai pihak yg lebih muda. F seharusnya merasa bersukur bisa memperoleh brondong cakep seperti dia. Jadi kalau si F mau memperlihatkan rasa sukurnya, si F harus memperlihatkannya dengan membuat hatinya senang dan terpenuhi.
Akhirnya ketika setelah setahun lebih mereka pacaran, si F mengalami kesulitan bisnis dan harus menyelamatkan bisnisnya dengan menjual propertinya. Salah satu properti yg harus dijual adalah apartemen F yg ditempati oleh E. E yg marah karena harus keluar dari apartemen itu langsung memutuskan F dan menolak untuk keluar dari apartemennya merasa apartemen tersebut telah dijanjikan untuk menjadi miliknya.

Kasus keempat
Ada brondong G yg ketika SMA berbadan agak gembrot. Karena sering di ledek, dia diet dan olahraga mati matian sehingga di usia ke 22 nya dia menjadi pria seksi yg siap menjadi finalis Lmen. Hobbynya adalah menemui teman teman lamanya untuk mendengar mereka terkejut dengan semua perubahannya. Trus ada si H yang berusia 45 tahun, Senior Manager di sebuah perusahaan multinasional yg sangat freak dengan ngegym. Mereka berdua bertemu karena sama sama berada di komunitas Muscle gay. G yang berasal dari keluarga pas pasan terang terangan mengatakan pada si H bahwa dia mencari sosok lebih tua yang bisa mengayominya, yg bisa membahagiakannya dan memenuhi kebutuhannya. H yang menyanggupinya karena dia juga mencari sosok lebih muda seperti G yang sesuai dengan typenya. Apalagi dia memang suka memanjakan pria yg disayanginya.

Akhirnya mereka berpacaran dan kehidupan G maupun keluarga dibantu oleh si H. Bahkan adik si G yg baru lulus langsung di terima kerja sebagai karyawan di perusahaan H. Orang tua G yg telah mencurigai kebaikan si H juga tampaknya diam saja karena H terbukti memenuhi permintaan G untuk merenovasi rumah orang tuanya tersebut. G dengan bangga mengenalkan om H sebagai kekasihnya di sosial medianya. Ketika orang melihat foto mereka berdua dengan jarak usia yg begitu jauh, orang langsung menuduh G sedang memoroti kekayaan si H. Sekalipun si G marah, marah, H cuma menanggapinya dengan senyum. Dan sekalipun H agak agak habisan memenuhi kebutuhan si G, tetapi dia tetap menyanggupinya karena itu membuat G bahagia. Tetapi ketika suatu ketika H dipecat dari pekerjaannya karena perusahaannya bubar, G tetap setia menemani si H melewati masa masa sulit tersebut. Bahkan akhirnya ketika si H mendapat pekerjaan baru di eropa, dia mengajak G untuk ikut bersamanya. G di sana cukup tinggal di rumah menunggunya pulang setiap hari. G menyanggupinya dengan syarat harus mengirimkan sejumlah uang untuk kedua orang tuanya setiap bulannya dan juga semua aset harus mengatasnama si G. H setuju dan ga masalah dengan syarat tersebut.

Ada yg tau kisah Calvin Klein dan brondongnya?

Nahhhhhhhhhhhhh

Dari ke 4 kasus itu, coba tentukan. Siapa yg rugi, siapa yg untung, siapa yg salah, siapa yg benar, siapa yg jahat, siapa yg baik. Kasus tadi itu kompilasi dari berbagai kisah curhat dan nguping bertahun-tahun ini.

Akhir kata kita ga mau menjadi pihak yg memutuskan siapa yg salah dan siapa yg bener, siapa yg brengsek dan siapa yg menjadi korban. Toh banyak yg kadang kita tuduh sebagai jahat, tetapi kita ga pernah tau kisah utuh ceritanya. Tetapi yg tampak baik dan menjadi korban, malah sebenarnya bisa jadi adalah sumber masalahnya. Sebenarnya dalam kasus brondong versus gadun susah sih kita mau judge seutuhnya. Yah brondong ada yg brengsek ada yg baik. Gadun juga ada yg brengsek ada yg baik. Gay juga gitu. Cowok juga gitu. Manusia secara umum juga gitu.

Kadang dari hal sederhana seperti siapa yg bayarin kalau makan di restoran aja menjadi masalah perdebatan panjang lebar. Ada yg merasa itu kewajiban yg lebih tua, yg gajinya lebih gede, yg ngajak atau yg milih tempat. Ada yg merasa itu harus gantian, atau harus bagi dua aja, atau satu bayar makan, satu bayar nonton. Semuanya sih boleh boleh aja. Selama tidak ada pihak yg merasa dirugikan, dimanfaatin, maupun disakitin. Sekalipun tidak ada yg merasakan itu semua, pihak lain juga tidak boleh ada niat untuk merugikan, memanfaatkan maupun menyakiti.

Jadi dalam hubungan brondong gadun, ataupun gadun gadun, maupun brondong brondong, selama tidak ada niat untuk menyakiti, merugikan maupun memanfaatkan yg terlibat yah fine fine aja apapun yg terjadi. Kalau sama sama suka yah ga papa. Tetapi apabila seadil apapun hubungan itu terlihat, tetapi ada satu pihak yg ga dirugiin, yah itu udah salah. Kadang yg dirugiin itu ga sadar karena buta oleh cinta. Tapi sekalipun yg dirugiin itu ga sadar, tp kalau yg merugikan itu sadar dia sengaja merugikan sang korban, yah hubungan itu udah ga bener. Sekalipun dia berdalih "kan dia udah gua biarin jadi pacar gua, masak gua ga boleh minta macem2 ke dia". Kalau yg bener mah, yg memberi itu tidak merasa diminta, dan yg menerima itu tidak merasa meminta. Itu baru beri-memberi yg bener.

Jadi antara brondong maupun gadun ga ada yg salah yah. Kecuali kalau sang brondong merasa wajib dibayarin dan gadunnya kepaksa, atau brondongnya mau bagi dua billnya, tp gadunnya merasa ga adil karena brondong makannya lebih banyak. Jangan dibawa terlalu ribet deh pokoknya kalau mau berhubungan. Sama sama enak dan adil aja pokoknya. Pasti langgeng kok kalau sama sama punya niat yg sama

6 komentar:

  1. Yah pada intinya sama sama butuh juga sih yah cuma caranya Yang salah.. tidak munafik kita butuh materi tapi banyak hal hal yang lebih penting dari materi.. ^•^

    BalasHapus
  2. Aku setuju dengan tulisan ini. Tapi ada fenomena sebaliknya. Brondong biayain hidup Gadun. Memang jumlahnya sedikit, bisa dihitung dengan jari. Jadi tidak selamanya Gadun yang berkuasa dalam sisi materi.
    Brondong anak orang kaya sekali tapi tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Sehingga mencari pengganti sosok Ayah, yakni om-om. Dia membantu hidup om-om tersebut dari segi materi.
    Benar yang dikatakan penulis, tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. Ketika kedua belah pihak sama-sama senang, apa yang dirugikan??
    Aku hanya ingin masyarakat tidak menganggap nyinyir ketika ada brondong jalan dengan gadun. Dan mereka nganggep bahwa brondong hanya mlorotin si gadun :) *edisi curhat* hahahahaa

    BalasHapus
  3. Dari awal lebih suka berhubungan sama yang seumuran. Biar sama sama bisa memberi dan meminta secara seimbang ;)

    BalasHapus
  4. Gue 20 tahun, mantan gue 29 tahun....dan gue yang hidupi mantan gadun gue itu. Sampe pas putus, dia masih hutang sekitar 2jt dan ga mau bayar. Hahahahahahh

    BalasHapus
  5. hy aku aden ..cowok sunda,putih,baik,bersih,sedang cari orang baik hati yang bisa terima aku apa adanya..klo ada om-om yg tulus bisa sayang dan mapan call 085659449021 .terimakasih…sopan dan cerdas

    BalasHapus