Senin, 04 Agustus 2014

Who will you come to like?

Sayang, kehidupan nyata tidak seindah di Manga untuk LGBT
Sebuah penelitian mengatakan bahwa 68% LGBT di sekolah Jepang dibully oleh teman teman sekolahnya. 53% dibully secara verbal , 49% dikucilkan, 20% dibully secara fisik dan bahkan 11% mendapat pelecehan seksual, seperti ditelanjangi ramai ramai oleh temannya. Sebagian besar mengatakan yang membully adalah teman sekolah, tetapi ada 12% yang juga di bully oleh guru. Kemungkinan lewat kata kata sih yah. Lebih dari setengah merasa tidak ada tempat mereka untuk curhat. 22% mengatakan bahwa mereka melukai diri sendiri sebagai pelarian. 32% mengatakan bahwa mereka bahkan mempertimbangkan pilihan untuk bunuh diri. Dan kita tahukan bahwa di jepang itu, tingkat bunuh dirinya termasuk tinggi. Jadi pemikiran LGBT usia sekolah tersebut dianggap serius oleh pemerintahan jepang.


Tentunya agak bingung buat kita yang selama ini selalu menganggap jepang sebagai negara yang sangat bebas dalam urusan seks. Karena seharusnya mereka lebih bisa menerima hubungan sesama jenis donk yah. Belum lagi manga dan anime mereka yang sarat dengan yaoi. Belum lagi katanya mereka sudah terbiasa dengan ketelanjangan sesama jenis seperti di dalam onsen. Tetapi dalam kenyataan sehari-harinya LGBT itu masih merupakan hal yang sangat tabu untuk di bicarakan mengingat mereka adalah masyarakat yang sangat tertutup untuk urusan pribadi dan sangat menjunjung nilai kekeluargaan.


Untuk mengatasi permasalahan ini, di sekolah sekolah jepang dalam edaran berita sekolah yang disebut Kokoro Kenkou no Nyusu atau yang terjemahan kasarnya adalah berita kesehatan jiwa, terdapat salah satu posternya berjudul "Who will you come to like". Poster ini menjelaskan tentang perbedaan Straight, Gay, bisexual dan asexual. Juga dijelaskan bagaimana seseorang bisa menemukan orientasi seksualnya, dan bahwa itu tidak bisa diubah. Ini pertama kalinya sekolah secara terang terangan menjelaskan mengenai orientasi seksual kepada muridnya, sekalipun hanya berupa poster yang ditempelkan di depan ruang kesehatan.

Langkah kecil, tetapi menjadi langkah penting di mana sekolah mengambil tindakan preventif dan tanggung jawab terhadap pendidikan murid didiknya hingga ke berbagai perkara hidup, termasuk mengenai orientasi seksual. Mungkin yang membaca juga tidak banyak, tetapi paling tidak ini membuktikan bahwa pihak sekolah di sana tidak tinggal diam melihat semua fakta data mengenai penderitaan dan kebingungan murid LGBT di sana. Good move Japan:)

1 komentar:

  1. kalo statistik dilakukan di indonesia kyknya jumlah yg di bully jauh lebih besar, blm lagi yg ga cerita, atau hal yg paling buruk itu hal yg biasa sehingga dianggap bukan bully.
    di jepang yg lebih terbuka dgn ada yaoi dan ketelanjangan sesama jenis lebih mudah memasang poster itu. coba kalo dipasang di sekolah sini -_-

    BalasHapus