Sabtu, 30 Agustus 2014

When parents knows.....



Ini adalah sebuah video yg cukup mengerikan sebenarnya. Seorang pria mengupload video  cowoknya yang diusir dari rumah oleh orang tuanya ketika tahu dia adalah gay. Sekalipun video ini tidak memperlihatkan keluarganya secara langsung, tetapi percakapan antara sang ibu, ayah, anak dan seorang wanita di dalam video ini sangat menyakitkan untuk disimak. Mulai dari omelan, cercaan standar sampai akhirnya menjadi agak "fisik".

Memberitahukan orang tua mengenai orientasi seksual kita memang bukan hal yang mudah. Apalagi kalau mereka menemukannya melalui cara yang tidak disengaja. Mungkin lewat foto2 dihandphonemu, atau lewat majalah jorok yg kamu sembunyikan di bawah kasur, atau ketika mantanmu yg phsyco menelpon mereka, atau misalnya ketika mereka ga sengaja melihat kamu sedang "ngapa-ngapain" dengan cowok lain di kamarmu. Tidak gampang biasanya untuk para orang tua untuk menerima keadaan anaknya seperti itu. Mereka adalah pasangan straight yang memiliki anak yang mereka harapkan untuk meneruskan apa yang telah mereka mulai. Ada yang marah dan kemudian pura pura lupa sambil sesekali nanya "kapan kamu mau berhenti main main". Ada yg menangis dan mencoba pasrah. Ada juga yang marah dan melakukan tindakan keras dalam menolak kenyataan itu.

Pernah mendengar tentang "5 stages of grief" nggak? Dikatakan dalam menerima berita buruk, biasanya orang akan melewati 5 tahapan yaitu menyangkal, marah, negosiasi, depresi dan menerima. Itu jugalah tahap yang dilewati oleh orang tuamu ketika mendapatkan berita mengenai kamu. Memang sih akhirnya cara mereka menerima berbeda-beda. Tetapi apabila kita bisa mencoba mengerti tahapannya, mungkin kita bisa lebih bijak menyikapinya

1. Tahap menyangkal
Ini terjadi kalau misalnya mereka pertama dpt SMS dari mantanmu yg phsyco "Tante, anak tante si Andri itu suka sama laki! Dia pernah pacaran sama saya, tp dia ninggalin saya buat cowok lain!". Pertama tama pasti reaksi mereka adalah menyangkal. "Ah, ga mungkin ini. pasti ini salah SMS. Kebetulan namanya Andri." Tahap ini bisa berlangsung sangat cepat atau lama, tergantung trigger berikutnya yang bisa memancing emosinya. Tentu saja apabila mereka tahunya karena menangkap basah kamu, tahap ini bisa lewat lebih cepat dan lanjut ke tahap emosi berikutnya yaitu marah

2. Tahap marah
Pastilah ketika pertama kali mereka menangkap basah kamu sedang isep2an ama cowok lain di kamar atau ketika dikirimin foto jorok kamu oleh mantan physcomu, pertama mereka akan merasa ga percaya. Tetapi krn kenyataannya dilihat dengan mata kepala sendiri, akhirnya mereka marah. Marah pada kamu. Marah pada kenyataan. Marah karena mereka tidak bisa berbuat apa apa. Marah pad diri mereka sendiri. Marah pada Tuhan.

Pada masa ini sebaiknya kamu jangan ikut ikutan marah. Kemarahan mereka adalah reaksi yang sangat alami. Ketika mereka membentak kamu karena menangkap basah kamu, tidak ada gunanya kamu balas marah. "Andri!!! Apa apaan yang kamu lakukan ini???? Ngapain kamu berdua????? Apaan apaan sih kamu??? Dasar anak kurang ajar!!!!".

Kalau udah seperti itu percuma kamu balas keras. Percuma kamu jerit-jerit "Papa apaan apaan sih!!! Ngoprek ngoprek handphone Andri sembarangan!!! Papa itu ga pernah hargain Andri!!!" Kalau kamu bales gitu sih bakal perang besar. Yang akhirnya pasti jadi ga enak. Kalau udah seperti ini, paling benar yg kamu diam. Biarkan mereka menumpahkan emosi terlebih dahulu. Jangan bantah dan jangan lawan. Ga enak banget sih dimarahin tp diam. Tapi biarkan mereka luapin dulu emosinya. Biasanya nggak lama kok tahap ini, apalagi kalau konfrontasinya langsung. Setelah mereka capek marah, biasanya akan lanjut ke tahap berikutnya yaitu

3. Tahap Negosiasi
Ketika mereka merasa lelah akan luapan emosi sebelumnya, mereka akan lanjut ke tahap ini. Negosiasi dengan dirinya sendiri maupun dengan kamu. Mungkin mereka cuma terdiam dan berpikir "ah, ini mungkin hanya fase sesaat. Mungkin kalau dikirim ke pesantren dia akan lupa semua ini". Atau langsung ngobrol ke kamu dan berusaha mencari pembenaran yang bisa menghapus kenyataan yang barusan terpampang "Andri, mama bingung. Kamu itu sebenarnya maunya apa. Kamu begini karena diputusin cewek kamu? Atau kenapa? Atau kamu dibohongi ama cowok tadi? Atau kamu ngobat sehingga ga bisa kontrol diri? Mama harus gimana, biar kamu ga gitu lagi?

Di tahap inilah percakapan terjadi. Apabila kita sama sama keras di tahap sebelumnya, maka tahap ini bisa bercampur dengan tahap sebelumnya yg penuh emosi sehingga diskusinya pun tidak akan benar. Apabila mau menunggu mereka selesai dari tahap 2, maka mereka akan agak lunak sekalipun mungkin masih menyimpan emosi. Tapi mereka akan mencoba "memperbaiki" kesalahan yang mereka lihat. Mereka akan berusaha agar kesalahan tersebut bisa terlupakan. Percakapan di masa ini lah yang menentukan arah selanjutnya untuk sikap mereka. Apabila kamu cukup beruntung untuk bisa sampai ke tahap ini, usahakan jujur ke orang tuamu. Atau kamu merasa lebih baik kamu bohong agar mereka bisa tenang? Terserah. Itu sepenuhnya keputusan kamu. Mungkin kamu tahu jantung mama kamu udah ga kuat, jadi kamu ga mau membuat drama tambahan dan kamu memutuskan untuk meminta maaf dan janji ga mengulanginya lagi. Atau mau memakai kesempatan ini untuk berdiskusi dengan harapan mereka akan mengerti? Atau mau mutusin untuk keluar dari rumah aja? It's your call.

4. Tahap depresi
Ini adalah masa penting. Karena dimasa inilah keputusan dari hasil negosiasi akan mereka serap dan mereka pikirkan dampaknya. Mungkin ketika kamu meminta maaf dan berjanji ga akan ngulangin lagi, mereka tersenyum dan meminta kamu berjanji. Mungkin terlihat masalah selesai di sana. Tetapi pasti di dalam hati mereka masih kepikiran. Mereka tahu sekuat kuatnya kamu berjanji, mereka sudah melihat sosok lain dari dalam dirimu. Sosok yang tidak bisa mereka lupakan. Dan mereka harus memikirkan bagaimana mereka harus bertindak dan bereaksi terhadap semua ini dan keputusan yang telah kalian ambil bersama.

Atau ketika tahap negosiasi gagal, dan akhirnya tidak terselesaikan. Maka masa depresi ini bakal menjadi semakin lama dan dalam. Kesedihan di masa ini lah yang kadang kadang membuat orang yang mendapat berita buruk tidak sanggup untuk melanjutkan hidup mereka. Di masa ini, apapun hasil negosiasimu, apabila kamu masih peduli dengan orang tuamu maka kamu harus dampingi mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa kamu masih peduli dengan mereka. Apapun hasil keputusan dari pembicaraan sebelumnya. Tunjukkan niat baikmu. Dengan menunjukkan niat baikmu sebagai seorang anak, mereka diharapkan bisa paling tidak untuk lebih bijak menyikapi situasi ini. Tahap ini bisa sangat lama, dan berakibat sangat buruk terhadap mereka.

5. Tahap Menerima
Bersukurlah apabila sudah sampai di tahap ini. Karena masalah telah selesai. Masalah sudah tidak lagi menjadi masalah. Masalah sudah dijawab oleh solusi yang diterima oleh mereka. Baik itu solusi baik maupun solusi buruk. Mungkin akhirnya mereka menerima kamu gay, dan memutuskan untuk menerima kamu apa adanya, atau memutuskan untuk mau belajar lebih memahami hidupmu, atau mungkin mereka menerima untuk belajar bahwa mereka sudah tidak punya anak seperti kamu lagi. Tahap ini lah dimana semuanya bisa move on yang semoga ke arah lebih baik.



Nah, selalu ingat tidak ada orang tua yang sama. Kita tidak bisa pukul rata bahwa semua orang tua akan bisa kita sikapi dengan satu guideline seperti ini. Ada orang tua yg keras kepala yang tidak mau bernegosiasi. Ada orang tua yang tidak peduli sehingga mereka langsung ngebut ke tahap menerima, menerima bahwa kamu akan putus hubungan dengan mereka tepatnya. Ada type orang tua yg selalu terlihat menjaga diri yang berkemungkinan akan berlarut larut dalam tahap depresi. Ada juga orang tua yang mungkin cukup menjalani semua proses ini di kepala mereka dan langsung memutuskan untuk menerima kamu apa adanya.

Ingat kita bisa memilih teman, pasangan kita. Tapi kita tidak bisa memilih orang tua kita. Sekalipun ada kejadian kejadian tidak menyenangkan yang membuat kita tidak dianggap lagi misalnya. Ingatlah selalu untuk menjadi pihak yang lebih dewasa dalam bersikap. Ingatlah selalu untuk punya niat baik tanpa batas karena mereka tetap adalah orang tua kita. Kalau sudah sampai tahap mungkin kita mau dipasung atau mau disakiti secara fisik, yah mungkin itu adalah kasus kasus khusus dimana kamulah yang harus menuntun dirimu sendiri melewati semua tahapan ini agar kamu bisa memutuskan yang terbaik untukmu sendiri. Tetapi untuk selalu ingat menjadi pihak yang lebih dewasa. Jangan ketika kamu ditampar oleh ibumu, kamu balas menampar. Atau ketika kamu dicaci maki oleh ayahmu, kamu balas mencaci maki dengan seluruh isi kebun binatang. Ingatlah selalu tenang ketika dengan mereka.

Semoga kasus kasus seperti ini tidak banyak terjadi pada kita. Tetapi apabila sampai terjadi, sikapilah dengan bijak, cari lah dukungan, dan selalu ingat untuk memiliki niat baik dalam semua keputusanmu.

1 komentar:

  1. Kok setelah mendengar video ini, perasaan gue jadi sedih banget.... sampe meneteskan airmata gue nya....

    BalasHapus