Senin, 21 April 2014

Indo Gay Webseries : CONQ Episode 2 & 3 - The Perfect Profile





Akhirnya keluar juga episode baru Conq Web series setelah ditunggu-tunggu. Dan karena orang pada udah ga sabar, akhirnya di keluarin dua episode sekaligus, yang sebenarnya adalah keputusan yang sangat tepat mengingat ke dua episode ini memiliki nuansa cerita yang agak berbeda.

Episode 2 sih masih memiliki nuansa yang agak mirip dengan episode pertama sih. Masih dengan sentuhan humor mengangkat realita komunitas gay di Indonesia dengan aplikasi Grindr (dan sejenisnya). Emang bener kok sebagian besar dari kita pernah di posisi seperti itu. Mungkin dengan penggambaran yang tidak sedramatis video karena sebagian besar dari kita memiliki penampilan yang lebih biasa, tingkah laku yang lebih biasa.  Tetapi emang benar sih berbagai cara dilakukan oleh orang orang dalam usahanya menarik perhatian cowok lain di Grindr. Dan bener banget sih banyak banget yang make foto palsu dengan asumsi pada saat ketemu karena dah sama sama horny, selama dia ga jelek jelek banget toh dia akan tetep diajak ML. Toh syahwat udah memuncak sampai ke ubun ubun kepala dan berdenyut dalam setiap langkah di dalam celana. Jadi sekalipun ga punya sixpack seperti buntelan roti, tapi asal ga ancur ancur amat yah udah lah embat aja. Toh abis keluar tinggal pura pura ada urusan dan kabur, hapus nomor hp dan tunggu jadwal horny berikut untuk berburu lagi. Kasarnya semakin horny, kadar toleransi terhadap potongan di foto grindr dan kenyataan yang berbeda menjadi semakin tinggi juga.

Ketika selesai menonton episode 2, mulai berasa kebayang seperti apa episode episode selanjutnya. Tiap episode akan mengangkat satu hal dari kehidupan dunia gay di Indonesia, dan dibikin skenario lucunya yang kebenarannya membuat kita semua bisa senyum senyum sendiri karena memang bener banget. Cuma kita terlalu malu saja untuk mengakuinya. Tapi mulai agak merasa "dimana yah letak ceritanya? Yah sepertinya ini cuma video lucu lucuan berkualitas tinggi yang dibuat dengan bantuan Ford Foundation dan Nia Dinata" Yah ada sedikit umpan lanjutan cerita di akhir episode dua, tetapi percakapan mereka mulai dikhawatirkan akan terjebak menjadi agak seperti novel karya penulis Indonesia yang memiliki judul absurd dan isi novel dengan latar eropa timur atau puisi rusia yang sama sekali tidak relevan dengan kehidupan di Indonesia yang sebenarnya. Dalam hati berpikir, "Waduh, epidode berikutnya bakal "pretentious" banget nih untuk memperlihatkan betapa sophisticatednya para karakternya dengan reference sastranya.

Tetapi ternyata episode 3 jauh banget dari perkiraan. Suasana humor yang agak sarkastik bitchy digantikan dengan adegan make out yang cukup berani dan percakapan serta akting yang natural. Belum lagi kekaguman karena mereka sudah memasukkan karakter yang HIV + dalam cerita yang masih terhitung dini. Jalan cerita yang memaksa kita membuka mata dengan realita yang sudah terpampang di depan mata kita. Sekalipun agak aneh nantang push up di tengah tengah kencan. Dan sebenarnya agak kurang setuju karena karakter HIV+ baru memberitahukan statusnya ketika mereka sudah setengah nanggung. Bahkan kalau Lukas ga terlebih dahulu berhenti untuk memberitahukan bahwa dia ga atletis, si Aghi sepertinya tidak akan memberitahukan mengenai statusnya dia. Dan banyak orang yang karena udah kepalang horny, udah setengah telanjang dan ga bisa mikir dengan bener dalam posisi seperti itu. Pada di saat diberitahu mengenai situasi partnernya, mereka tidak bisa berpikir lurus. Akal sehat kalah dengan isi celana yang sudah terlalu mendesak. Banyak yang mungkin berpikir "Yah udahlah, yang penting kayaknya aman" tanpa tahu bagaimana caranya secara tepat melakukan dengan aman.

Seharusnya informasi seperti itu diberitahu sebelumnya pada saat semua orang masih bisa menganalisa informasi dengan benar dan memutuskan bagaimana mereka akan melanjutkan hubungannya. Bukan berarti diskriminasi terhadap HIV+, tetapi setiap orang juga memiliki hak untuk bagaimana mereka menyikapinya. Mungkin ada yang mau tetap melanjutkan sampai ke hubungan romance seperti di Queer As Folk atau serial ini. Tetapi tidak salah juga kalau ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan ke hubungan seksual dan tetap melanjutkan hubungan sebagai teman. Yang salah kalau ada yang malah menjauhi orang itu serta merta begitu tau mengenai status HIVnya. Tetapi kalau misalnya diberitahu sebelumnya, dan partnernya masih tertarik untuk melanjutkan ke hubungan seksual, mereka bisa sama sama mencari tahu cara melakukan dengan aman. Terutama untuk pihak yang masih negatif karena biasanya mereka tidak punya pengetahuan mengenai hal tersebut sebanyak mereka yang positif. Kalau sudah sama sama tahu caranya, kan bisa sama sama tenang melakukannya

Tetapi anyhow suka sih endingnya setelah mereka adu push up (???), dan serial itu di tutup dengan Lukas yang membelai muka si Aghi. Nice ending. Kita tunggu deh kelanjutannya kalau gini yah. Toh katanya udah selesai suting ampe selesai juga, jadi kalau ada protes protes juga udah ga bisa diubah:D





1 komentar:

  1. Ini para pemain nya asli gay, taw hanya aktor yg meranin gay ya ??

    BalasHapus