Sabtu, 12 Oktober 2013

Movie : Bungee Jumping of Their Own


Ini bukan film gay sebenarnya. Mungkin lebih tepat apabila kita sebut ini film tentang cinta yang tidak mengenal batas waktu dan gender. Memang ada intensitas hubungan romantis antara seorang guru pria dengan murid pria yg berusia 17 tahun. Tetapi agak egois kalau kita langsung mengklaim mereka gay. Demi nama cinta, kita harus melihat hubungan mereka sebagai sebuah hubungan antar dua manusia yang saling kehilangan dan menemukan kembali dalam situasi yang tidak terlalu bersahabat untuk mereka

Bagian pertama film ini agak mirip semua film korea romantis lain sih. Cowok pendiam yg jatuh cinta dengan cewek yg periang. Sekalipun mereka sama sama jatuh cinta satu sama lain dalam cinta pada pandangan pertama, sayangnya kisah mereka harus berakhir ketika sang cewek harus dijemput dulu ajalnya. Nah


bagian kedua dari film ini setelah di fast forward 20 tahun, sang cowok yg kini sudah menikah dan menjadi guru sebuah sekolah menengah atas. Salah satu murid prianya menarik perhatiannya karena mengingatkan dia pada sang cewek. Apalagi ternyata sang brondong ini punya berbagai kemiripan dengan sang cewek. Sang cowok yg sekarang menjadi guru terpaksa harus menahan perasaannya karena apapun yang ingin dia lakukan tidak akan terlihat benar dimata siapapun. Sementara itu sang brondong juga merasakan bahwa ada ketertarikan terhadap sang guru yang sepertinya tidak natural karena berasal dari dirinya di kehidupan sebelumnya. Bagaimanpun perasaan cinta yang ditahan-tahan tetap saja tidak dapat disembunyikan sehingga rumor beredar di sekolah mengenai sang guru yg gay dan menyukai si brondong. Perlakuan murid-murid di sekolah yang menekan mereka membuat akhirnya sang guru terpaksa dipecat. Sementara sang brondong juga akhirnya sadar bahwa dia adalah reinkarnasi seseorang yang dulu jatuh cinta kepada sang guru yang akhirnya menghantarkannya untuk bertemu kembali dengan sang guru di tempat dimana dulu sang guru berjanji ketemu dengan si cewek itu dulu

Endingnya? Hmm.... bukan happy ending sih. Tetapi ending yang meninggalkan kesan banget. Sekalipun mereka bisa hidup bersama bahagia berdua dengan menikah di Belanda mungkin, tetapi mereka memilih cara lain agar mereka tetap dapat bersama-sama.


Film ini menarik bukan cuma karena konsep cinta yang terbawa reinkarnasi, tetapi karena mengajarkan kita untuk melihat cinta melewati batas batas yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Yah mungkin memang benar ketika sang guru cowok mencintai sang brondong, orang melihatnya sebagai pasangan gay. Tetapi apakah cinta itu harus dilabel oleh jenis kelamin untuk menentukan jenis cinta itu sendiri? Bukankah kita selalu ingin agar para straight memahami cinta dalam dunia gay sebagai cinta yang tidak memandang jenis kelamin agar mereka lebih bisa memahami cinta yang kita rasakan ketika dibandingkan cinta yang biasa mereka miliki. Cinta tanpa memandang jenis kelamin, cinta kepada pribadi manusia di dalam tubuh manusia itu tanpa memandang jenis kelaminnya, itulah cinta yang ingin diperlihatkan oleh film ini

Mungkin film ini agak kontroversial juga karena mengangkat itu yg agak sensitif selain isu gay, yaitu isu percintaan antar dua manusia yang usianya terpaut jauh, dan salah satunya masih dalam usia sekolah. Film ini cukup pintar menjaga batas itu dengan menampilkan sang brondong berusia 17 tahun dan tidak ada adegan berlebihan yang memperlihatkan intimasi antar sang guru dan sang brondong. Tentu akan berbeda apabila sang brondong dalam cerita ini berusia 14 tahun. Kalau dalam kasus seperti itu tentunya sang guru harus bisa bersabar untuk mengekspresikan rasa cinta terhadap sang murid hingga usia yang tepat. Ngomongnya gampang yah:D Kalau udah soal cinta meledak ledak, apalagi kebayang ketika menemukan bahwa your one and only love is reincarnated into a teenager body. Yah ga papa sih kalau sang murid dan sang guru benar benar saling mencinta dan akhirnya end up bersama, asal keputusan itu harus dibuat sendiri oleh sang murid ketika dia berusia cukup dewasa untuk menentukan keputusannya sendiri sebagai orang dewasa.


Anyway, cari cari film ini deh kalau sempet. Pemainnya juga bagus aktingnya. Sang guru yang main juga di GI Joe sebagai ninja berbaju putih (lupa namanya) bagus banget aktingnya. Sang brondong juga lucu. Tapi sayangnya sang aktris yg memerankan sang cewek bunuh diri beberapa tahun setelah film ini beredar. Satu-satunya kritik yg bisa diberikan adalah ketakutan sang produser film ini bahwa film ini akan dikategorikan sebagai film gay. Semua materi promosi hanya menampilkan pasangan cowok dan ceweknya. Memang sih topik utama di sini adalah cinta antara sang cowok dan cewek, tetapi sosok sang brondong sebagai pribadi yg terlibat agak agak disembunyikan untuk menghindari stereotype film gay di film ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar