Minggu, 28 Juli 2013

Free and Equal

Karena semakin banyaknya kekerasan terhadap LGBT di berbagai di dunia, PBB meluncurkan sebuah program global yang disebut "Free & Equal", yang diharapkan dapat meningkatkan toleransi dan mengubah sikap masyarakat di negara anggota PBB yg keras terhadap LGBT  "Free & Equal" sendiri adalah berupa program yang terdiri dari video dan pernyataan yang akan di sebarkan lewat sosial media, website khusus dan juga melibatkan para selebritis sebagai duta untuk menyampaikan pesan pesan dari program ini.

Program ini diluncurkan minggu lalu di Capetown Afrika oleh Navi Pillay, high commisioner for human rights dari PBB yang memang kebetulan berasal dari Afrika Selatan. Program ini diluncurkan di benua Afrika karena beberapa negara dengan perlakuan terburuk terhadap LGBT berada di benua ini. Contohnya Kamerun dan Uganda yang terang terangan menyatakan bahwa LGBT adalah tindakan kriminal.  Bahkan Afrika Selatan yang menerima pernikahan gay tetap memiliki banyak kasus kekerasan terhadap LGBT. Banyak negara lain seperti Russia, Jamaika, Montenegro, Haiti dan lain lain yang juga masih sangat bermasalah dalam hal ini.

Desmond Tutu dan Navi Pillay
Program ini juga didukung oleh Desmond Tutu, pemimpian terkenal dari Afrika Selatan yang berjuang melawan politik apartheid dulu. Dia menyatakan bahwa dia akan menolak masuk ke surga yang homophobic. Nelson Mandela sekalipun tidak hadir langsung, tetapi merupakan sumber inspirasi program ini karena Nelson Mandela lah yang mengatakan bahwa pendidikan adalah senjata terbaik melawan prasangka buruk.

Sampai saat ini paling tidak masih ada sekitar 76 negara yang mengkriminalisasikan prilaku seksual gay. Negara yang melakukan diskriminasi terhadap LGBT sendiri lebih banyak lagi jumlahnya. Cuma kurang dari setengah anggota PBB yang terang terangan mengakui persamaan hak untuk LGBT


Sekalipun pasti akan ada banyak negara yang tidak nyaman dengan program ini, Pillay mengatakan mereka akan merubah setiap pesan agar sesuai dengan kebudayaan di masing masing negara. Tetapi tetap akan ada benang merah berupa testimoni dari mereka yang mengalami diskriminasi atau kriminalisasi ini sendiri seperti orang tua dari anak yang dibully, pasangan dari mereka yang dibunuh atau bahkan pasangan gay tua yang terpaksa hidup dalam ketakutan.

Ini adalah sebuah langkah penting karena apabila kita ingin ada badan yang sanggup memaksakan program pendidikan anti diskriminasi LGBT ke seluruh dunia, cuma PBB lah jawabannya. Ini juga berarti isu persamaan hak LGBT akan menjadi isu penting di mata PBB sebagaimana isu hak asasi manusia lainnya. Mungkin nanti akan ada satu organisasi sendiri di dalam PBB yang akan mengurus hal ini seperti UNICEF atau UNESCO.

3 komentar:

  1. Siapa ya orang Indonesia yang bakal jadi duta ini? hmmm..

    BalasHapus
  2. Boro2 kepikiran bgnian,kehidpan gay yg ku jalani sj jauh dr yg ku bygkn.mgkn ga smua gay itu brengsek,tp knpa yg kukenal smua cm menginginkn tubuh dan materi.

    BalasHapus
  3. PBB memang lagi gencar2nya meneriakan a better world for 2015. Dalam kuesioner yang PBB bagikan ke seluruh dunia itu juga ada pilihan untuk kesetaraan gender, orientasi sex, pokoknya yg menyangkut LGBT dan semacamnya lah...
    Cuman saja di indonesia hanya sedikit yang memilih untuk itu. Yah, nggak heran sih. Kan topik ini masih asing banget di indonesia...

    BalasHapus