Minggu, 12 Mei 2013

We are lucky to be Gay


Duku ketika masih brondong, di saat sudah menyadari kondisi diri yang "berbeda", sering terbersit pemikiran tentang kenapa sial sekali harus menjadi berbeda dengan yang lain. Kenapa sih ga bisa sama aja dengan yang lain. Kenapa sih nggak bisa merasa deg-degan dengan cewek di sekolah yang cantik cantik, tetapi malah deg-degan saat ganti baju bersama dengan temen cowok lain di dalam kelas setelah pelajaran olahraga. Kenapa sih di saat semua orang bercerita tentang cinta monyet mereka dengan cewek inceran satu sekolah, kita malah harus berjuang menyembunyikan rasa cinta kita terhadap teman baik kita yang bulu kakinya lebat dan jago main basket. Kenapa sih sial banget harus sampai jadi beda seperti ini

Tetapi seiring dengan perkembangan pendewasaan diri, pemikiran itu menjadi semakin berubah. Proses seleksi secara random yang memiliih kita untuk menjadi gay/homoseksual masih sama. Tetapi sikap untuk menghadapinya kian hari kian berubah dari merasa terbebani, sial sampai akhirnya menjadi merasa semakin spesial dan beruntung. Perbedaan yang semula terasa seperti beban karena harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan mereka yang lain dan mengubur dalam dalam perasaan kita, menjadi sebuah kebanggaan karena dengan perbedaan tersebut kita menjadi memiliki hal hal yang berbeda yang tidak dimiliki oleh semua orang. Hal hal yang bahkan bisa membuat sirik mereka yang masuk ke dalam kategori "normal".

Perubahan cara pikir tersebut tentu saja tidak terjadi dalam waktu semalam. Melainkan melalui proses panjang yang penuh dengan air mata, keringat dan darah (#lebay).  Perasaan tertekan itu sendiri terjadi karena kita berusaha melawan kondisi kita yang alami dan berjuang keras untuk menjadi sesuatu yang bukan diri kita sendiri. Itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Berpura-pura menjadi sesuatu yang sama sekali bukan jati diri kita sambil berusaha memendam dalam dalam keinginan kita sesungguhnya. Semakin tertekan dan semakin kita berusaha melawan, semakin cepat pula kita merasa depresi dan marah terhadap diri kita sendiri. Ketika kemarahan yang meledak ledak tersebut mencapai titik puncak dan akhirnya membuat kita menyerah terhadap keadaan, kita akan harus memaksakan diri untuk belajar menerima perasaan tersebut dengan lapang dada. Daripada terus terusan melawan, lebih baik kita mulai mempelajari apa sebenarnya yang membuat kita berbeda dan bagaimana kita bisa hidup bersama dengannya. Dan di saat kita mencoba mengerti semua kebingungan ini, tekanan yang selama ini terus menerus mendera akan sirna seketika. Perubahan tersebut akan merubah cara pandang kita terhadap semua hal.

Contoh paling gampang misalnya ketika kita menonton bokep. Apabila dulu kita berusaha untuk memaksakan diri untuk menonton bokep straight dengan berusaha mencari hal apa yang bisa merangsang kamu dari sosok cewek pirang berdada super besar, kini kamu bisa tanpa malu malu berfokus pada pemain pria di film bokep tersebut. Kita tidak akan perlu pura pura lagi untuk tidak peduli dengan sosok pria berotot yang memiliki alat vital super besar yang terus menerus menyita perhatian kita. Kamu sekarang bisa mengacuhkan semua pemain wanita dari bokep tersebut dan mulai mencari bokep baru yang tidak ada wanitanya. Kamu sudah bisa menerima bahwa yang kamu sukai adalah sosok prianya, bukan wanitanya. Di saat kamu mengakui terhadap diri sendiri bahwa itu yang kamu sukai, maka semuanya akan menjadi lebih ringan. Dan di saat itulah kamu akan merasa bahwa kamu berbeda, tetapi dengan sudut pandang yang lebih positif. Saat itulah kamu akan merasa beruntung karena kamu termasuk kaum "pilihan" yang diberikan sesuatu yang "berbeda"

Jadi untuk yang masih berjuang untuk menerima kondisi mereka, cuma pengen ngasih tau aja bahwa di saat kita bisa menerima diri kita sendiri sepenuhnya, kita akan merasa "beruntung" bahwa kita adalah seorang gay. Sampai kita bisa benar benar menerima diri kita sendiri, kita tidak akan pernah merasa terlepas dari tekanan dan beban tersebut. Terimalah diri kita apa adanya, dan sukurilah apa yang sudah menjadi bagian dari kita. Kita adalah kaum "terpilih" yang dipersiapkan untuk hal hal yang berbeda dalam hidup ini. Hidup pasti akan menjadi lebih ringan dan kita juga akan bisa lebih siap untuk berbagai hal menyenangkan yang bisa kita lakukan sebagai kaum "terpilih"

We are not just any regular ordinary people, we are extraordinary lucky people that selected by life to be gay.


10 komentar:

  1. bolehlah buat menenangkan diri sendiri.. :)

    BalasHapus
  2. totally agree.. we're different but we should proud of it.. =]
    @rezasuryahadi

    BalasHapus
  3. Bener banget... Proses yg sama ! Dan sangat bersyukur saat ini!

    BalasHapus
  4. Tulisan yang bikin gue senyum-senyum, ngangguk-ngangguk dan sedikit menghela napas panjang. Sering kali ngebego-begoin diri sendiri karena berusaha terlalu keras untuk bertingkah se-cool dan semanis mungkin di depan cowok yg disuka, padahal jelas-selas dia straight.

    Gay-nya gue gak gue sikapi dengan syukur atau perasaan sukacita. Dulu gue benci banget sama keadaan ini. Tapi sekarang ya biasa aja. Umur gue 20tahun April kemarin, dan gue udah mutusin buat gak ngeluairin berbagai tanya soal gay nya gue ini ke Tuhan atau bahkan ke gue sendiri.

    Entahlah, gue ngerasa bahagia hidup tanpa ada rasa kalau gue beda/spesial dengan yg lain karena gay nya gue ini.. seperti postingan touchemagz sebelum ini... Gue cuma manusia... bukan gay, lesbian, normal, abnormal atau apapun itu...

    Gue suka banget blog ini!

    BalasHapus
  5. pacar gw str8 dulunya dan dia lebih milih gw dari cewenya anything could happen

    BalasHapus
  6. "tetapi malah deg-degan saat ganti baju bersama dengan
    temen cowok lain di dalam kelas setelah pelajaran
    olahraga. Kenapa sih di saat semua orang bercerita
    tentang cinta monyet mereka dengan cewek inceran
    satu sekolah, kita malah harus berjuang
    menyembunyikan rasa cinta kita terhadap teman baik kita yang bulu kakinya lebat dan jago main basket."

    (^_^)

    BalasHapus
  7. I never feel proud or happy to be gay. Kita makhluk yg tidak biasa, dan sayangnya hidup lebih mudah jika kita sama seperti yang kebanyakan.

    Gw pun tidak bisa menganggap gay itu normal, sesuatu yg biasa karena kenyataannya tidak. Kita lahir dari ayah dan ibu, bukan ayah dengan ayah atau ibu dengan ibu.

    Saya pun tidak menganggap gay itu pilihan. Kalau bisa memilih, saya masih mau menjadi laki-laki normal. Bukan juga jadi perempuan. I'm glad to be a man, even I'm gay..

    Saya pun tidak menganggap being gay is a sin. Well, ada tahapan ketika saya beranggapan seperti itu. Yah, entah lah iar Tuhan nanti yang menilai.

    Yang sekarang saya masih berjuang adalah bisa menerima diri saya apa adanya. Dengan kelebihan dan kekurangannya.

    Namun yg saya percaya, saya dihidupkan pasti ada tujuannya. Jadi saya berusaha menjadi diri saya sendiri, yang terbaik yang saya bisa dan bisa menjadi orang yg memberi makna terhadap hidup orang lain.

    I'm not feel lucky, I just (learn) to accept myself..like I'm now..

    BalasHapus
  8. i am not proud wth everythg i've done (as a gay). but maybe even if i'm not a gay, i would do anything worst, who knew? i just try to live my life as a good person. there's a lot of importnt things 2 do in life than just gay/bi/hetero :)

    BalasHapus
  9. We are born this way and will die this way, we are normal, healthy and blessed like our brotkher and sister

    BalasHapus