Senin, 25 Maret 2013

Burned Because He Was Different

Ada masa masa dalam perjalanan kisah sejarah manusia ketika tindakan kekerasan terhadap sesama manusia dianggap hal yang biasa. Pada masa masa itu kepala musuh yang dipenggal menjadi kebanggaan yang ditenteng seperti halnya kita menenteng termos sekarang ini. Ada masanya ketika orang berkumpul di alun-alun untuk menikmati hiburan berupa acara hukum mati gantung sebagaimana kita berkumpul untuk menonton konser Noah. Atau ketika orang-orang menghukum para wanita yang dianggap penyihir dengan cara dibakar hidup-hidup sebagaimana acara Barbeque kita di masa sekarang ini. Tindakan-tindakan seperti itu selalu dikaitkan dengan tindakan yang dilakukan oleh mereka yang terhukum yang dianggap fatal atau sangat bersalah terhadap masyarakat seperti sihir atau berkhianat terhadap raja.

Tetapi seakarang di abad ke 21, jaman sudah berbeda. Rasa kemanusiaan kita sudah membuat banyak kita untuk lebih menghargai kesalahan manusia lain. Tindakan kejahatan yang separah-parahnya akan diadili melalui perangkat hukum untuk diberi hukum yang setimpal. Bahkan ketika menjatuhkan hukuman matipun, kita masih berusaha mencari cara yang ternyaman untuk mereka yang bersalah. Yah mungkin di beberapa daerah pedalaman tingkat kemanusiaan mereka masih berbeda dibandingkan mereka yang hidup didaerah maju. Tetapi tentu kita berasumsi mereka yang di negara maju pastinya rasa kemanusiaan mereka akan manusiawi dibanding kita terhadap kesalahan apapun.

Steven Simpson, korban yang meninggal
Tetapi sebuah kejadian yang baru terjadi tidak lama di Inggris membuat kita akan mempertanyakan kembali kemana perginya rasa kemanusiaan yang seharusnya sudah semakin membaik seiring perjalanan ratusan tahun kita ketika bergelut dengan kekerasan. Seorang anak remaja berumur 18 tahun dibakar hidup-hidup karena dia seorang gay oleh pria lain berumur 20 tahun dalam sebuah pesta. Kemungkinan besar sih berbagai bentuk minuman keras dan obat terlarang terlibat sehingga sang pria berumur 20 tahun itu sudah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Alkisah Steven Simpson, seorang remaja pria yang sedikit berbeda karena dia menderita aspenger syndrome dan openly gay mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke 18 di rumahnya. Sebagai seorang penderita Aspenger Syndrome, Simpson menjalani berbagai kehidupan yang berat karena kerap dibully oleh teman temannya yang menganggap dia aneh. Ditambah statusnya yg openly gay, membuat dia dan keluarganya sampai harus pindah rumah untuk menghindari para bully yang sering sampai melempar cat ke rumahnya. Simpson sendiri menurut penuturan keluarganya adalah sosok yang ramah dan selalu berusaha untuk dekat dengan siapa saja. Dia mengadakan pesta ulang tahun tersebut juga dalam usahanya untuk mendekatkan diri dengan teman-temannya. Tetapi di pesta itu sepertinya alkohol yg mengalir tanpa henti membuat suasana memanas. Ketika teman temannya men"dare" dia untuk telanjang, Simpson yang tengah dalam euforia berbungkus alkohol memberi hiburan tambahan kepada teman temannya yang sepertinya sangat menikmati pestanya dan menerima dirinya dengan membuka baju dan celananya. Ada juga yang menyebutkan Simpson dibully di pesta ulang tahunnya sendiri hingga dia harus telanjang dan menari-nari untuk menghibur teman-temannya. Tidak diketahui juga bagaimana kemudian teman temannya mulai menulis di atas tubuhnya "gay boy" atau "I love dick" sampai kemudian situasi semakin menggila ketika temannya menyemprot seluruh tubuhnya dengan dry self oil tan disambung teriakan ramai ramai yang berseru "bakar, bakar, bakar!". Seorang pria lain bernama Jordan Sheard mulai menyalakan korek dan mencoba membakar daerah selangkangan Simpson.

Rumah tempat diadakan pesta ulang tahun ke 18 itu
Campuran api dari korek dan oil tan spray membuat api menyala seketika. Dan ketika ini terjadi Simpson yang panik segera lari keluar dari rumahnya sementara semua teman temannya tidak ada seorangpun yang mencoba untuk memadamkannya sampai ketika seorang tetangganya melihat hal tersebut dan segera keluar dari rumah untuk memadamkan api di tubuh Simpson. Tetapi api telah menjalar dan kulit tubuh Simpson telah terbakar parah yang akhirnya membuat Simpson harus menghembuskan nafas terakhirnya dua hari kemudian di rumah sakit akibat luka bakar yang terlalu parah.

Jenis Self Tan Oil Spray yang digunakan
Polisi juga segera berusaha menangkap pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Simpson. 5 remaja pria termasuk Jonathan Sheard dibawa ke kantor polisi. Jonathan Sheard yg menyalakan korek diberi hukuman 3,5 tahun yang dinilai oleh sebagian besar orang orang sebagai hukuman yang terlalu ringan. Tetapi unsur ketidak sengajaan menurut hakim tidak seharusnya mendapatkan hukuman yang lebih berat dari itu. Tetapi keseluruhan proses bully yang berujung kematian bagi keluarga yang ditinggalkan dan para aktivis patut mendapat hukuman yang jauh lebih berat

Jonathan Sheard yang membakar Simpson
Jangankan teman, melihat orang asing yang terbakar aja kita pasti seharusnya masih memiliki naluri kemanusiaan untuk membantu memadamkannya. Apalagi teman yang mengundang kita ke pesta ulang tahunnya. Entah apakah alkohol membuat mereka menjadi buta atau memang ketidak pedulian yang membuat mereka merasa itu sebagai hal yang lucu. Tetapi yang jelas semua tindakan mereka yang berujung hilangnya nyawa seorang Simpson telah membuat mereka membuktikan di masa sekarangpun rasa kemanusiaan itu bisa "terlupakan" begitu saja ketika kita menganggap mereka yang berbeda patut mendapatkan suatu hukuman yang pantas mereka dapatkan. Pertanyaannya adalah Siapakah kita hingga kita berhak mengatakan bahwa mereka yang berbeda itu salah? Apakah karena kita telah menjadi bagian dari mayoritas membuat kita serta merta menjadi pihak yang benar dan berhak menghukum mereka yang berbeda? Apakah kita sebagai manusia memang akan selalu seperti ini?

6 komentar:

  1. miris sekali bacanya. itulah kenapa alkohol diharamkan karena membuat manusia berprilaku gila dan biadab.

    denger dia kena asperger syndrome mengingatkanku pada khan. dan itu sudah bikin aku sedih. ditambah kematiannya yg dibakar itu benar2 memilukan.

    semoga orang2 di Indonesia bisa belajar dari ini.

    BalasHapus
  2. Kalo menurut gue sih salahnya simpson sendiri... udah tau kalo kita ini beda dengan yang lain.. dan uda sering di bully sama orang orang yang "mengaku" straight, untuk apa lah mendekatkan diri dengan orang2 begitu...

    Satu yang harus kita sadari.. ngak mungkin banget meminta orang orang yang "mengaku" straight itu mengerti keadaan kita... keluarga aja belum tentu bisa mengerti kita.. apa lagi teman. Yg ada hanya menjadi korban bully dan korban candaan mereka.

    BalasHapus
  3. May He rests in peace. Amen.

    BalasHapus
  4. menurut gue sih ini murni karena pengaruh alkohol sih..btw, orang tuanya ga ada pengawasan ya?

    BalasHapus
  5. Ya, sayapun melihat ini adalah kasus konsumsi alkohol yg berlebihan... Bukan masalah perbedaan orientasi seksual.

    Dan saya rasa hakim juga sudah bertindak sebagaimana mestinya.

    Opini pribadi anda yg terlalu mengedepankan fakta bahwa si korban adalah gay, dan membesar2kan itu seolah2 itu adalah penyebab utama kasus ini, menurut saya terlalu mendramatisir...

    Btw, i am gay.

    BalasHapus
  6. Hmmm... mungkin memang alkohol memegang peranan penting dalam nalar logis mereka ketika menyalakan api tersebut. tetapi tubuh si SImpson yang dipenuhi tulisan "Gay Boy" dan berbagai tulisan lain menunjukkan kecil kemungkinan ini dilakukan hanya sekedar untuk becandaan. .

    Mungkin memang apabila mennyebutkan dia dibakar karena gay agak berlebihan, tetapi kalau menyebut dia korban bully karena gay dan ketika bercampur dengan alkohol bully tersebut semakin menggila melampaui batas nalar normal manusia yang mengakibatkan si Simpson terbunuh, aku rasa itu adalah gambaran tepat apa yg terjadi

    Apakah si Sheard bersalah karena menyalakan korek tersebut? Apakah dia benar benar berniat membunuh? Jarang rasanya mendengar bully itu dilakukan dengan niat membunuh. Kalaupun sampai ada yg terbunuh biasanya karena kecelakaan seperti ini. Tetapi kecelakaan itu tidak akan terjadi kalau bully itu tidak pernah dilakukan.


    BalasHapus