Kamis, 01 November 2012

Tetangga Gay di Indonesia

Sebuah hasil penelitian yg dipublikasikan oleh The Indonesia Survey Circle memperlihatkan betapa jauhnya negara tercinta kita ini dari pengakuan adil dan penerimaan penuh dari masyarkat Indonesia terhadap kaum Gay.

Dari tabel di atas kita bisa melihat bahwa sejak tahun 2005 hingga tahun 2012 jumlah persentase masyarakat yang sulit menerima kaum-kaum yg berbeda dengan mereka menjadi semakin tinggi. Dan angka tertinggi adalah intoleransi terhadap kaum homoseksual. Pertanyaan yang diajukan adalah apakah anda keberatan bertetangga dengan homoseksual, ahmadiyah, shia atau orang dari agama yang berbeda. Kita bisa melihat disemua pilihan semakin banyak orang yang keberatan. Tetapi lebih dari 80 persen mengaku mereka keberatan bertetangga dengan kaum homoseksual. Itu berarti 4 dari 5 orang di Indonesia keberatan memiliki tetangga homoseksual.  Bisa juga dikatakan apabila kita come out ke lingkungan sekitar kita, ada sekitar 80% orang yang keberatan kita tinggal berdekatan dengan mereka.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjalanan kita untuk memperjuangkan posisi yang sama bagi kaum gay di mata masyarakat Indonesia masih sangat jauh. Dan yang menjadi penghalang bukan hanya FPI, tetapi juga persepsi dan pendirian orang orang yang berada di sekitar kita. Dan itu juga menjadi tugas kita untuk merubah persepsi itu di mata mereka. Tidak perlu dengan gay pride di lingkungan RT/RW atau pidato di kelurahan mengenai hak hak kaum gay. Cukup dengan memberi pengertian secara casual dan ringan kepada lingkungan sekitar bagaimana bahwa kaum gay yang hanya menjadi bahan guyonan di televisi itu adalah penggambaran yang tidak tepat untuk kaum gay. Bahwa kaum gay tidak selalu seperti olga atau Ivan Gunawan. Bahwa kaum gay tidak selalu berdandan seperti wanita dan mengejar setiap pria straight manapun. Bahwa kaum gay bisa terlihat seperti pria normal seperti pria pria lain. Cukup berikan komentar ringan ketika ada yang mengomentari Olga misalnya dengan kata kata "Liat deh, homo banget gayanya". Jika ada yang berkomentar seperti itu, timpali saja dengan "Belum tentu semua yg homo kayak gitu kok, gua ada kenal beberapa yang ga keliatan sama sekali". Mungkin komentar itu tidak akan merubah persepsi mereka pada saat itu. Tetapi apabila mereka mendengar hal tersebut juga dari beberapa orang lain, mungkin akan membuat mereka berpikir dua kali ketika mengomentari hal yang sama. Itu memang bukan tindakan kepahlawanan yang akan membuat tetanggamu menjadi gay friendly dalam waktu semalam, atau bahkan setahun. Tetapi dengan pengertian sedikit demi sedikit, mungkin dia akan mengajarkan yang sama ke anaknya, atau memberikan komentar serupa ketika ada orang lain yang mengomentari Olga juga

Change people's mind is not easy. But it has to be started at somewhere. No matter how small it is, it will count when all of us do it together. Cause all of us have started it.

9 komentar:

  1. HOMO DILANKNAT ALLAH...

    BalasHapus
  2. blablablabla .... get a life!

    BalasHapus
  3. Allah itu maha kasih... Jika gay dilaknat Allah, bagaimana dengan kasus pemerkosaan di angkot? Kasus aborsi, kasus suami memmbunuh isterinya karena cemburu? Apakah perbuatan2 yang dilakukan oleh "kaum straight" tersebut diridhoi Allah? Think again. Dosa bukan ditentukan oleh orientasi seksual seseorang. Tapi dari perbuatan2nya...

    BalasHapus
  4. Being Gay or Lesbian is wrong to SUSTAIN the BALANCE of the WORLD

    BalasHapus
  5. By being gay and lesbian we are rebalancing the world after it had too many asshole like you

    BalasHapus
  6. Sebenarnya memang pandangan (sebagian besar) warga negara Indonesia towards LGBT agak lebay. Saya termasuk di sebagian kecil yang mau toleransi LGBT. Kalau dari pengalaman saya sendiri, saya sering terang-terangan bilang ke kerabat saya "Gue mau aja loh punya temen yang LGBT. Emangnya kenapa? Kan seru-seru aja." Sebagian besar bakal respon "Ihhh apaan sih lo." dan hanya secuil yang menyahut "iyasih, emangnya kenapa?"

    Sangat disayangkan sih kalau menurut saya. Toleransi emang satu hal baik yang udah diajarin dari SD tapi malah gak bisa diterapkan setelah kita beranjak dewasa (padahal seharusnya....)

    Gini deh, kalo agama ngelarang LGBT, ya udah. Yang gue tau sih, agama gue ga ngelarang buat membenci. Nah, from that point, kenapa sih harus ngehujat LGBT? Mereka kan hidup bareng kita, mereka juga temen ngobrol yang baik, salahnya mereka apa? Isn't hating someone without a reason considered pointless? :)

    Paling sebel kalo udah ada yang ngejudge. Macam "Tuhan akan menghukum orang homo." "homo dilaknat Allah." Really guys, menghukum, melaknat itu kan urusannya Tuhan. Lo ga perlu koar-koar tereak-tereak supaya mereka dilaknat. Tiap gue baca komen kayak gitu, responnya kayak 'Coba lo ngehujat orang dan menghakimi orang kayak gini emang kaga dosa?'
    Coba ya urusin dulu urusanmu sebelum ngurusin orang lain.

    BalasHapus
  7. "Change people's mind is not easy. But it has to be started at somewhere. No matter how small it is, it will count when all of us do it together. Cause all of us have started it."

    loved this words!

    BalasHapus
  8. gue straight dan gue biasa-biasa aja tuh. toh kita semua juga manusia kan. bener sih apa yang dibilang, urusan dosa gak dosa, laknat gak laknat ya urusan Tuhan. Emang sih di agama gue LGBT tuh dilarang, tapi kita juga gak boleh ngejauhin.

    BalasHapus