Kamis, 09 Agustus 2012

Saddest thing ever


5 tahun yg lalu seorang anak menelpon ayahnya untuk memberitahukan bahwa dia gay. Di saat itu sang ayah tidak banyak berbicara hanya menjawab "iya" dan "oke". Sekitar seminggu kemudian surat yg ditulis tangan ini dikirim oleh sang ayah untuk anaknya.

Isi dari surat ini :"
James : This is a difficult but necessary letter to write.
I hope your telephone call was not to receive my blessing for the degrading of your lifestyle. I have fond memories of our times together, but that is all in the past.
Don’t expect any further conversations with me. No communications at all. I will not come to visit, nor do I want you in my house.
You’ve made your choice though wrong it may be. God did not intend for this unnatural lifestyle.
If you choose not to attend my funeral, my friends and family will understand.
Have a good birthday and good life.
No present exchanges will be accepted.

Goodbye,
Dad.

Terjemahannya :
James : Ini adalah surat yg sulit tetapi harus ditulis
Aku harap telponmu itu bukan berarti kamu mendapat restu dariku untuk gaya hidupmu yg semakin menurun itu. Ada banyak kenangan indah akan kebersamaan kita, tetapi semua itu telah berlalu
Jangan harap untuk percakapan lebih lanjut denganku. Tidak ada komunikasi sama sekali. Aku tidak akan berkunjung, ataupun menginginkanmu di dalam rumahku
Kamu telah membuat pilihanmu sekalipun itu adalah pilihan yang salah. Tuhan tidak menciptakan gaya hidup yang tidak normal ini.
Jika kamu memilih untuk tidak datang di hari pemakamanku, teman temanku dan keluarga akan mengerti

Semoga ulang tahun dan hidupmu menyenangkan
Tidak menerima pertukaran hadiah

Selamat tinggal,
Ayah

Come out ke orang tua adalah salah satu hal paling sulit dan keputusan paling berat yang mungkin harus kita lakukan suatu hari. Dan tidak semua orang tua kita memiliki pemahaman yang sama seperti kita. Mereka besar dan tumbuh dalam lingkungan yg berbeda dengan kita. Mereka menerima pendidikan yang berbeda dengan kita. Jadi ada hal hal yang memang tidak akan pernah sama antara hidup kita dan hidup mereka. Ada orang tua yang untungnya memiliki pemikiran yang cukup terbuka, mungkin karena pendidikan mereka, mungkin karena pergaulan mereka yang bisa menerima anak mereka sebagaimana adanya. Tetapi ada juga orang tua yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan seperti kita, yang tumbuh dalam lingkungan yang keras dan sangat berbeda dengan lingkungan kita. Menerima kenyataan bahwa anak mereka memiliki orientasi seksual berbeda mungkin adalah hal yang sangat sangat sangat sulit kita terima

Sekali lagi, come out ke orang tua adalah salah satu hal paling sulit dan keputusan paling berat yg mungkin harus kita lakukan suatu hari. Tetapi keputusan apakah kamu mau melakukannya atau tidak sepenuhnya terserah pada kamu sendiri. Bukan haknya lingkungan, teman teman, partnermu, cowokmu, atau siapapun untuk mendikte dirimu untuk melakukan hal itu. Kalau memang kamu ingin melakukannya, lakukanlah sebagai keputusan kamu sendiri. Persiapkan diri untuk berbagai kemungkinan. Persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Siapkah kamu untuk menerima kemungkinan itu? Siapkah orang tuamu menerima kemungkinan itu?

Ketika kamu come out sebagai gay ke orang tuamu, bukan hanya hidupmu yg berubah. Hidup mereka juga berubah. Ingatlah hal itu sebelum kamu membuat keputusan itu apabila kamu masih benar benar mencintai orang tuamu. Apabila kamu sudah siap dengan perubahan yang akan terjadi, kira kira mereka akan siap nggak dengan perubahan yang terjadi? Siapkah kira kira orang tuamu apabila semua saudara-saudaramu membicarakan kamu di pertemuan keluarga? Siapkah orangtuamu ketika mereka menyadari mereka tidak akan pernah mempunyai cucu darimu?

Kasus surat di atas jelas adalah sebuah hal yang sangat menyedihkan. Kejujuran seorang anak yang tidak diterima dengan baik oleh ayahnya. Salahkah anaknya mengaku? Tentu tidak. Dan yakin pasti dia sudah berpikir sangat panjang sebelum menelpon ayahnya. Salahkah ayahnya? Caranya jelas salah. Memutuskan hubungan dengan anak, darah daging sendiri lewat sebuah surat karena anaknya gay.

Tetapi salahkah dia karena tidak mau menerima anaknya gay? Ini hal yang sangat sulit untuk dijawab. Kita tidak pernah tahu seperti apa sosok ayahnya. Kita tahu anaknya adalah sosok mandiri yg percaya diri akan orientasi seksualnya. Tetapi kita tidak tahu apa apa mengenai sang ayah. Apakah dia adalah seorang ayah yg lahir, besar dan menghabiskan seluruh hidupnya dalam sebuah lingkungan keras yg mengecam kaum gay? Apakah dia seseorang ayah yg dimasa mudanya pernah mengalami pengalaman buruk dengan kaum gay sehingga dia membenci kaum itu?

Sebelum kita memutuskan itu, coba ingat ingat kembali orang tua kita dan betapa berbedanya dunia kita dan dunia mereka. Tidak semua hal yg dapat diterima di dunia kita bisa mereka terima begitu saja. Sama seperti halnya kita yang tidak bisa menerima hal hal dari dunia mereka begitu saja. Menerima hal yang berbeda itu butuh kebesaran hati yang mungkin tidak dimiliki semua orang. Semua itu tergantung seberapa besar kuatnya pengaruh lingkungan mereka, dan seberapa besarnya cinta mereka ke anak mereka. Apakah orang tua kita diajarkan untuk mau menerima hal hal berbeda dalam hidupnya? Apakah orang tua kita diajarkan untuk berbesar hati ketika mereka harus berusaha menerima hal yang berbeda. Apakah orang tua kita diajarkan untuk memegang teguh nilai nilai yg mereka pelajari dari kecil sekalipun itu sudah tidak relevan dengan keadaan sekarang.

Kita tidak mengatakan untuk jangan come out ke orang tuamu. Tetapi kita juga tidak menyarankan serta merta untuk come out ke orang tuamu tanpa pertimbangan yg matang. Come out lah ke orang tuamu pada saat tepat, ketika menurut kalian mereka telah siap menerima, agar hubungan kalian sebagai orang tua dan anak tidak terputus seperti halnya yang terjadi di surat di atas. Tidak ada orang tua yg tidak mencintai anaknya. Apapun yang dilakukan oleh anaknya mereka akan tetap mencintai anaknya. Yang membedakan adalah seberapa besar effort dan seberapa lama waktu yg mereka butuhkan untuk menyadari dibalik semua hal hal berbeda mengenai anaknya, kalian tetaplah darah dagingnya.

Satu hal penting lagi yg perlu dingat, keputusan come out adalah keputusanmu sendiri. Bukan keputusan siapapun, mentor, kokoh, abang, pacar, bf, suami atau siapapun. Itu keputusanmu sendiri

update :
skrg semua org sedang marah marah di internet atas "jahat"nya sang ayah. Yah bener sih tindakan sang ayah itu salah. Tetapi kok admin merasa ini bukan cuma sekedar surat seorang ayah yg pemarah dan picik yah. Ini lebih ke seorang ayah yg kecewa dan membulatkan tekad dgn mengorbankan darah dagingnya sendiri demi prinsipnya. Mungkin gua yg terlalu cengeng dan drama sih ngebayangin yg nggak nggak. Sebuah surat yg ditulis tangan setelah beberapa hari dia menerima telpon dari anaknya, itu pasti adalah sebuah surat yg ditulis dengan penuh perhitungan. Bukan cuma sekedar luapan amarah sesaat. Yah...once again.... mungkin gua yg terlalu drama sih

4 komentar:

  1. make me cry read this letter.so sad.i dont have father anymore.but mybe if he know im gay he must be very hate me.

    BalasHapus
  2. Di internet orang sedang mencela cela sang ayah yg menulis surat ini. Tp nggak tahu kenapa, aku ngebayanginnya ini bukan semacam surat benci penuh amarah. Terlalu banyak detail yg ditulis untuk seseorang yg sedang marah. Ini lebih ngebayangin ditulis dgn berat hati oleh seorang ayah yg tidak bisa menerima anaknya sebagai gay.

    Maybe i am too soft or too naive. But I always everybody is a good guy deep down inside.

    BalasHapus
  3. Aku setuju sama mimin. Si ayah masih nutup surat itu atas nama 'dad', kyk ada indikasi dia ga bener2 rela nglepasin si anak. Pasti akan jauh menyakitkan kalo dia nutup surat itu dgn nama aslinya.
    Trus ada bbrapa hal yg patut dipertanyakan:
    1. kenapa si anak menyampaikan hal sesensitif itu lewat telfon? aq ga bilang kalo hasilnya akan berbeda tp mgkn itu akan membuat si ayah merasa lebih dihargai.
    2. kenapa surat itu keluar stlh 5 thn? bukankah itu cuma membuka luka lama bagi semua pihak yg bersangkutan? apa dia ingin mempermalukan/menjelek2kan si ayah? atau ada agenda lain dibalik semua ini?

    BalasHapus
  4. yg hetero tidak pernah ngalamin rasa dan proses 'come out' suatu nilai plus dlm pengalaman perjalanan hidup manusia pernah ngalaminnya

    ada banyak cerita ttg org2 yg come out
    tiap org punya kondisi masing2
    dari yg diterima dgn penuh kasih sayang sampai dibuang seperti sampah
    cerita ttg surat ayah ini bs dijadiin pertimbangan

    skrg psti ga sedikit yg udh gelisah kepala mau pecah pengen come out ke ortu, msh menunggu moment, mempetimbangankan resiko dll
    itu adalah proses, dan come out bukan kewajiban, lebih kepada kebutuhan atau keinginan
    come out ga hrs dgn kata2, bs dgn sikap ato genggam tangan pacar :D tunjukan cinta kalian

    "cinta merubah nafsu menjadi nafas"(serat chentini), kl liat pink dot merubah pandangan gay relationship jg menunjukan cinta bukan menunjukan nafsu, dgn sikap

    stlh come out bukan berarti selesai, justru itu adalah awal, baik yg diterima atau pun yg tidak

    org tua memiliki ego jg, sering kali bila ego dilukai ada reaksi berlebihan, spt ayah di cerita ini, agak sulit menerima ini sbg reaksi yg manusiawi dan wajar dr seorang manusia bila egonya terluka, yg bs terjadi pd setiap org

    biar gmn, proses tdk berhenti sampai disitu, pikiran dan hati akan terus berproses baik di pihak org tua ato anak menuju ketenangan, penerimaan, pemahaman atas kondisi dan reaksi masing2, walo membutuhkan proses yg panjang dan 1 langkah kecil perubahan

    skrg kl mau come out bnyk yg support, udh bnyk seleb yg come out, organisasi gay yg udh bnyk, mgkn jg udh bnyk tmn2 yg udh come out bs sharing.
    zaman 10 thn yg lalu cerita k temen2 komunitas gay mau come out dianggap aneh n gila -_-

    bisa berdamai dengan diri sendiri, menerima diri sendiri, dan menemukan kebanggaan d dlm diri utk support diri sendiri, lebih penting ...

    BalasHapus