Selasa, 17 April 2012

I wanna hold your hand


Yeah you, got that something
I think you´ll understand
When I say that something
I wanna hold your hand
I wanna hold your hand
I wanna hold your hand

Lirik lagu beatles yg dipopulerkan lagi oleh Kurt itu selalu bikin aku sedih.  Bukan karena konteks cerita sedih ketika Kurt menyanyikan lagu tersebut, atau karena lagu tersebut adalah kenang-kenangan ketika diputusin mantan. Tetapi karena lagu itu menyimpan impian terbesar dalam hidupku sebagai seorang gay. Yaitu berpegangan tangan

Saat ini di belahan dunia lain kaum gay sedang memperjuangkan hak hak mereka untuk menikah. Mother monster juga mendukung mereka sepenuhnya untuk memberikan mereka apa yg seharusnya menjadi hak kaum gay. Kaum militer amerika juga memperjuangan hak mereka di dalam kalangan militer untuk sebuah pengakuan. Semua memperjuangkan hal yg begitu serius, begitu besar dan begitu berarti buat pergerakan kaum gay.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Sudah siapkah kita untuk memperjuangkan hak kita untuk menikah atau keterus terangan di dalam kalangan masyarakat. Adat timur dan mayoritas negara kita yg masih berpegang teguh pada agamanya menyebabkan apapun yg sedang diperjuangkan kaum gay di barat sana terlihat tidak relevan dan agak percuma di sini.

Itu bukan salah siapa siapa sih. Itu adalah buah dari norma masyarakat dan keadaan lingkungan dimana kita tinggal, yg memiliki akar budaya yg berbeda dalam menghadapi masalah masalah homoseksualitas seperti ini. Butuh waktu dan tenaga yg tidak sedikit untuk dapat mencapai hasil perjuangan seperti yg telah diraih oleh berbagai negara lain? Yah tapi nggak papa juga sih. Sadar kok perkawinan sejenis itu adalah hal yg masih butuh perjuangan sangat sangat sangat berat dengan tantangan yg juga sangat sangat sangat besar untuk diwujudkan di Indonesia.

Yang aku inginkan hanya sederhana. Aku belum butuh surat nikah, aku belum butuh pengakuan untuk mengangkat secara resmi seorang anak. Aku hanya ingin bisa berjalan bergandengan tangan tanpa harus khawatir akan pandangan orang orang dengan orang yg aku cintai. Aku hanya ingin bisa berjalan bersama bergenggaman tangan dengan pasangan tanpa beban dalam menikmati suasana seperti pasangan straight. Sekarang ini, hanya itu yg aku mau.

Sangat tersiksa rasanya ketika berdiri di eskalator dan melihat pasangan cowok cewek berpegangan tangan menunggu di atas eskalator tersebut di depanku. Sentuhan fisik sederhana sebagai ungkapan pasangan lewat genggaman tangan yang begitu biasapun tidak pernah bisa aku rasakan. Yah tentu saja dibalik pintu ruangan tertutup, kita bisa bebas berpegangan satu sama lain lebih dari sekedar tangan. Tetapi pengakuan atau penerimaan dari orang lain disekitar kita yg belum tentu kita kenal terhadap ungkapan kasih sayang kita lewat sebuah gandengan tangan itu di depan umum menjadi sebuah kemewahan yang rasanya sangat sulit untuk dimiliki. Aku ingin orang orang tidak mempedulikanku yg bergandengan tangan dengan pasangan ketika kami berjalan keluar dari bioskop, atau ketika kami berjalan menelusuri toko toko. Aku ingin mereka sebegitu menerimanya sehingga hal hal seperti itu akan terlihat bukan apa apa di mata mereka. Sesulitkah itu untuk diwujudkan.

Ada alasan kenapa bergenggaman tangan itu menimbulkan rasa kehangatan dan kedekatan. Manusia sebagai mahluk sosial selalu berusaha untuk melakukan kontak fisik dengan orang yg disenanginya untuk merasakan kedekatan secara harafiah. Sentuhan-sentuhan kecil seperti mengelus rambut, atau mengusap punggung adalah kedekatan sesaat yg terekspresikan dengan cara kasual. Tetapi ketika gerakan seperti pelukan dimana dua tubuh saling berdekatan, menempel dan tangan berkait dipunggung masing masing, kedekatan menjadi semakin nyata. Tetapi karena pelukan bukanlah hal yg praktis dilakukan sambil berjalan, ujung ujung bagian tubuh lain ketika sedang dalam kondisi bergerak tetap berusaha melakukan sentuhan fisik saling berkait yg melambangkan persatuan. Dan bagian tubuh yg paling ujung yg cukup fleksibel dan kompleks untuk membentuk jalinan adalah jari jari tangan. Jadi ketika kita berjalan bergenggaman tangan, bisa dianggap kita sedang melakukan pelukan versi mini menggunakan tangan dan jari jari kita

Yah tentu saja dengan bermodal nekat bisa saja kami bergandengan tangan di dalam mal tanpa memperdulikan pandangan aneh aneh dari orang lain. Tetapi bukan itu yg menjadi tujuanku. Bukan pembuktian diri ke mereka bahwa kita "bisa" melakukannya yg ingin kutunjukan ke orang-orang. Tetapi perasaan nyaman dalam sebuah genggaman tangan dengan pasangan di depan umumlah yang sebenarnya ingin kuperoleh.  Bukan pesan politis yg ingin kusampaikan dalam menginginkan gandengan tersebut. Hanya sekedar ingin melakukan sesuatu yg berbeda dan tetap dianggap wajar dalam melakukannya.

Kapan yah kita baru bisa melakukannya ...

PS :
memang sih ada sebagian daerah di Indonesia yg kaum pria mudanya suka berjalanan sambil bergandengan tangan, tp skrg ini kayaknya sudah semakin sedikit deh. Dan juga mereka bergandengan tangannya juga cuma dalam konteks pertemanan biasa.

4 komentar:

  1. I really want to make it happen, someday :')

    BalasHapus
  2. miris. krn memang, cinta tak pernah salah jika tumbuh diantara dua orang yg berjenis kelamin sama, bukan?

    BalasHapus
  3. gw pernah gandeng bf d sebuah mall, kl gw straight ga akan pernah ngalamin sensasi dan hal2 yg gw rasa saat dia mau gw gandeng, yeaaa i did it :p ...

    BalasHapus