Senin, 11 Juli 2011

Gak suka sama Cong

Gua nggak pernah bermasalah dengan sebutan binan, gay, homo, banci, tp gua nggak pernah suka dengan kata cong atau bencong. Makanya kalau ada yg nyebut "Cong kan sukanya Cher", atau "Ketahuan Congnya deh" atau "Jadi Cong musti dandan tau", bentuk jidat gua langsung berkerut2 seperti handuk lipat. Gua nggak masalah dengan konteksnya, nggak masalah kaum binan dikaitkan dengan dandan, nggak masalah kaum binan dikaitkan dengan cher dan berbagai macam stereotypes yg ada. I dont mind. Yang gua masalah cuma sebutan kata "Cong" itu.

Juga jangan nuduh kalau gua bermasalah dengan kaum waria atau kaum yg sebenarnya benar benar diartikan dalam kata bencong. Mungkin sexually I am not attracted to them, but I respect them for their choices. Gua akuin gua nggak terlalu comfortable bergaul dengan mereka, sama nggak comfortablenya kalau suruh gua bergaul dengan cowok cowok straight yg potongannya setengah preman. Tp gua nggak suka kata "cong" sama sekali bukan karena gua nggak suka mereka.

Semua ini mungkin asal muasalnya dari kisah klise anak kelas 4 SD ketika menjadi anak lelaki yg suka bemain boneka dan membawa kotak pencil bergambar candy candy ke sekolah. Ketika cowok cowok teman sekelas bermain kasti, dia lebih memilih main lompat tali. Ketika begitu banyak perbuatan perbuatan kecil yg tidak disadari olehnya bahwa itu mungkin agak kurang nyambung dengan jenis kelaminnya. Dan ketika semua teman temannya memanggil dia dengan kata "bencong" tanpa terlalu dia sadari penyebabnya. Atau ketika ibunya masuk ke kelas dan ngadu ke ibu guru sambil menunjuk2 anak anak laki lain yang sering memanggilnya bencong. Atau ketika dia sedih dan ada anak cewek yg tomboy membela dengan berkata "Kalau dia panggil kamu bencong lagi aku pukul dia yah!" Atau mungkin panggilan yg melekat sampai akhirnya sang anak bertekad lulus SD akan langsung pindah sekolah dan merubah imagenya agar nggak dipanggil sebutan itu lagi.

Dan akhirnya berhasil dilakukannya sih... Dia masuk SMP yg berbeda. Berusaha bergaul dengan teman pria dan melakukan kegiatan yg katanya lebih pria. Berusaha membeli tabloid motor demi mengerti pembicaraan teman temannya. Atau menghafal nama grup NBA agar dapat ikut berkomentar di tengah percakapan. Hasilnya? Nggak ada yg manggil dengan kata Bencong lagi sih. Walapun Volley dan basket masih merupakan 2 olahraga yg paling ditakutinya. Sementara senam ritmik dan modern dance malah semakin diakrapinya. Tetapi bayang bayang kata bencong paling tidak sudah tidak melekat lagi di dirinya. Dan perlahan lahan semakin bisa ditinggalkan sampai dia bisa menemukan jati diri sendiri yg tidak akan pernah membuat orang menempelkan kata bencong di dirinya.

Makanya mungkin itu sebabnya, skrg walaupun dia sudah mengerti dia berbeda. Berbeda dengan teman temannya yg langganan cewek cewek cina di daerah kota, sementara dia tetep setia pada Grindr di handphonenya. Berbeda karena dia lebih memilih memeluk dada yg berbulu dibanding dada montok berbalut beha. Dia sudah menerima sih sepenuhnya keadaannya. Tidak ada yg disesalinya. Tidak ada yg membuat dia akan merasa rugi atas keputusannya.

Hanya saja tinggal sebutan Cong itu setiap kali dia dengar selalu membuat dia teringat anak kelas 4 SD yg sesunggukkan dirumah karena nggak masuk sekolah sampai orang berhenti memanggilnya bencong.

Gua nggak masalah di panggil gay, binan, homo, banci. Itu semua hanya label yg menunjukkan perbedaan dalam konteks serius maupun bercanda. Tetapi maaf yah kalau sampai skrg kata Cong masih belum bisa diterima sepenuhnya di telinga tanpa membuat teringat kebingungan seorang anak kelas 4 SD yg bertanya kepada diri sendiri "Memangnya aku apanya yg berbeda?"

10 komentar:

  1. it touches my heart so much :') touche touches my heart :P thanks for sharing :)

    BalasHapus
  2. i had that same situation at the same age in my past and i still hate that word till now, that word may ruin one's dignity, sadly that word also came out from my beloved dad, he may rest in peace.

    BalasHapus
  3. thks kevin:) May he rest in peace Riddie

    BalasHapus
  4. Masalah kita sama. . . Tos!

    BalasHapus
  5. Mungkin lebih banyak gay, cong atau apalah sebutannya yang mengalami pelecehan yang lebih menyakit kan dari yang anda rasakan. cuma itu seharusnya membuat kita lebih kuat menerima ujian mental. menurut saya lebih bijaksana jika kita bisa menyikapinya dengan dengan pemikiran dewasa. apapun istilah yang di panggilkanbuat kta apa mau di bilang gay , homo, banci, waria , atau bencong akan sama sama menyakitkan bila di ucapkan dengan cara yang yang tidak diinginkan oleh kita. apa anda bisa menerima seseorang meyebut anda dengan gay atau homo dengan setengah berteriak dan mata yang memandang kejijikan? ... podo wae.. dan satu lagi yang paling penting.. gay yang macho atau yang feminim sama aja.. nggak ada kelebihannya , jangan mengclass kan kaum sendiri.. sama aja kita sudah menyalahi kodrat sama sama homosexual

    BalasHapus
  6. kalau panggilan dari dari org luar yg memang dengan nada kebencian sih kayaknya emang musti either telen atau lawan sih. Kalau ada yg manggil dengan pandang jijik sih mungkin akan gua colok matanya.

    Yang suka nggak comfort itu adalah kalau sesama kaum gay yg memanggil cong. "Cong banget sih lo", "ih kan mau jadi cong aja susah amat". Kalau liat di blog lain itu mungkin adalah panggilan yg sangat umum. Dan gua personally gak comfort aja sih dengan sebutan itu untuk mengwakili diri gua sendiri. It's just me personally loh. Gua nggak melarang org lain untuk menggunakannya kok. Lagian sering dipakai dgn maksud lucu2an, jadi yah... let them be.

    Kl soal kodrat sih agak susah yah. Menyebutkan gay itu menyalahi kodrat sama seperti menyebutkan cewek yg bekerja dan suami yg tinggal di rumah jaga anak menyalahi kodrat. Is it against "kodrat"? Mungkin bs dibilang gitu. tapi kalau di tanya, is it wrong? Nggak kok, nggak salah. Itu cuma "beda", bukan "salah'

    BalasHapus
  7. Kita sepaham, karena mngalami kejadian yg sama...Kita sepaham, karena mngalami kejadian yg sama...

    BalasHapus
  8. hei admin.., i think i love you :)

    BalasHapus
  9. tau ga selama ini ternyata yang suka ngejek gue cong itu orang" pecundang ... dan gue tau bahwa mereka terancam akan gue, ingin seperti gue ,dan lebih buruk dari gue.. sekian

    BalasHapus
  10. aku nangis bacanyaa. ini bener-bener sama persis sama pengalaman aku, tapi bedanya pengalaman ini aku rasain di smp. aku gay sejak kelas 1 smp, dan "gay" itu muncul begitu aja, aku gk tau kenapa-_- aku lebih suka melihat tubuh temen2 aku yg cowok kalo lagi ganti baju disekolah, daripada liatin ukuran payudara temen2 aku yg cewek. awalnya aku kira aku cume mengagumi tubuh cowok yg idel (tegap, gagah, dll) karena aku gk punya bentuk tubuh sebagus itu. tapi lama0lama perasaan itu jadi beda. maaf jadi curhat nihh :(

    BalasHapus