Rabu, 23 Juli 2014

Hunk Version of Spongebob Squarepants

Spongebob
Patrick
Squidward
Mr. Krabs
Plankton

Selasa, 22 Juli 2014

Heartrob : Men in Uniform

Terinpirasi oleh sang camat (beneran camat bukan sih) ganteng yg beredar dan bikin heboh kemarin, kita jadi tersadarkan betapa menariknya pria pria dengan seragam ini yang terdiri dari tentara, polisi, pegawai negri dll. Sumber foto dari internet, jadi agak ga jelas siapa aja nama namanya:)






































Senin, 21 Juli 2014

TeaBagging


Yang nggak ngerti lucunya bentuk teabag atau kantong teh ini mungkin perlu tau dulu arti teabagging dalam bahasa inggris:D

Teabagging adalah kegiatan seksual yang cukup spesifik yang mirip dengan aktivitas mencelupkan kantung teh ke dalam cangkir berkali kali agar sari pati tehnya larut di air panas dalam cangkir. Kebayang kan. Nah teabagging sebagai sexual activity juga agak mirip aktivitasnya. Nah sebagai ganti cangkir, coba bayangin mulut orang. Dan sebagai ganti kantung teh, bayangin itu yahhh liat aja bentuk kantung teh di atas itu mirip apa hehehe

Dah ngerti kan kenapa

Minggu, 20 Juli 2014

Michael Sam's Speech



Michael Sam yang pernah kita bahas di sini menyampaikan pidato yang sangat menyentuh ketika memperoleh Arthur Ashe Courage Award yang merupakan bagian dari ESPY award untuk atlit/non atlit yang memberikan kontribusi kemanusiaan berarti tiap tahunnnya

Sabtu, 19 Juli 2014

Is it wrong to think that size matter?


Does Size matter? Ukuran itu penting ga sih? Mungkin kata yang harus di tekankan dalam pertanyaan itu bukan "Ukuran", tetapi ada dalam kata "Penting". Seberapa "penting" kah ukuran itu? Apakah ukuran itu menjadi harga mati dalam mencari pasangan, apakah ukuran itu penting dalam proses memilih? Trus kalau ukuran yang di bawah rata rata dikompensasi dengan ukuran dompet yang di atas rata rata mungkin, apakah masih bisa di terima?

Tentu saja "dimasukin" yang segede teh botol atau yang segede "Sosis so nice" itu beda banget rasanya. Begitu juga ketika coba makan pisang raja atau pisang emas dengan sekali lahap. Beda banget kan rasanya. Yah ada aja sih orang yg ga peduli pasangan cakep atau jelek, asal punya pisang ukuran pisang ambon. Tetapi ada juga yg harus punya pacar cakep tanpa peduli apapun ukuran pisangnya. Yah kalo pisang ambon anggap aja bonus. Tapi kalau pisang emas yah juga ga papa asal cakep.

Namanya juga ukuran sih yah. Kalo ditanya seberapa beda berasanya antara yang gede dan yang kecil, tentu saja jawabannya "beda banget". Cuma sekarang kita jadi penasaran ada nggak sih orang yang sekalipun menyadari ukuran itu berasa banget bedanya, tetapi dia tetap tidak menganggap itu sebagai hal yang terlalu penting. Ada ga yah kira kira orang seperti itu? Terus terang banyak banget kok orang yang berpendapat seperti itu. Mereka menganggap "Kalo dapat yang gede itu bonus. Kalo dapat yang pas pasan yah ga papa juga. Kalo kecil yah mungkin coba cari-cari kelebihan dia yang lain".

Trus bagaimana dengan orang yang merasa ukuran besar itu penting? Salahkah mereka? Yah ga donk. Nama juga preference. Orang yang lebih memilih coklat dibanding strawberry ga salah kan. Orang yang lebih memilih cowok berambut cepak dibanding yang gondrong ga salah juga kan. Begitu juga orang yang memilih barang gede daripada yang kecil, mereka ga salah juga kok.

Yang salah itu adalah ketika membuat pilihan, baik ketika kita lebih memilih yang besar dibanding yg kecil, atau ketika kita lebih memilih yang manis dibanding yg asin, atau ketika kita lebih memilih yg biru dibanding yang merah, kita melakukannya tanpa mau mempertimbangkan hal-hal lain dan kita melakukannya dengan cara yang menyakitkan orang lain. Toh dalam hidup kita semua selalu membuat pilihan dan mempunyai favorit kok. Dan itu membuat pilihan itu adalah hal yang sangat wajar

Tapi apabila kita bertemu dengan orang yang hanya mau punya pacar dengan ukuran XL. Trus ketika dia mengetahui kamu cuma ukuran M, dia ngomong baik baik ama kamu ke kamu. Yah, itu artinya he is not the right person for you. Move to the next one aja. Jangan langsung nuduh dia picik atau tidak berperasaan. Tidak berperasaan itu adalah ketika dia langsung tidak mau ngomong ama kamu karena dia tahu kamu cuma ukuran M. Toh kalau dia ngasih tahu baik baik kan. Ga papa donk. Sama sama dewasa aja dalam menyikapinya.

Contohnya nih, kalau misalnya kamu nyari cowok itu yang benar benar seagama. Trus kamu ketemu cowok cakep yg naksir kamu, dan kamu baru tahu ternyata dia agamanya beda. Oleh karena itu kamu memutuskan untuk mencari pacar lain saja yang seagama. Kamu ga salah kan kalau merasa seperti itu? Apalagi kalau kamu bisa omongin baik baik dengan dia. Beda ceritanya kalau misalnya kamu langsung meninggalkan dia dan ditambah dengan ngomongin jelek soal agamanya. Nah itu baru kamu jadi salah.

Jadi ukuran penting nggak? Yah penting-penting aja sih. Penting karena kita semua tentunya mau pastiin ukuran yang ada itu memadai untuk kita. Ukuran yang memadai itu buat tiap orang itu juga beda beda kok. Ada yg suka besar, ada yg suka kecil, ada yang bahkan ga peduli. Masing-masing ukuran juga ada pasarannya. Pernah punya temen yang anti banget ama yg gede gede karena bikin rahang pegel katanya:D Tapi ada juga temen yang hanya mau jalan dengan cowok yg ukurannya di atas 17 cm

Kita juga jangan berasumsi bahwa semua orang pasti langsung nyari yg besar dan ogah sama yang pas pasan kalau udah urusan nyari cowok. Kecuali kalau kamu memang carinya buat fun dan kamu bener bener butuh yg bisa memuaskan kamu dari ukuran, yah itu beda ceritanya.Sekalipun dalam urusan cari pasangan sih ukuran itu berpengaruh dalam mengambil keputusan,  masih ada banyak banget hal hal lain yang juga bisa menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Udah deh, ga usah dipikirin terlalu serius buat ukuran. Prinsipnya, kalo gede itu bonus, kalo pas-pasan yah bagus, kalo kurang yah coba dicari kompensasi di bidang lainnya. Kalau ukurannya kamu ga suka, baik kegedean maupun kekecilan yah udah ga papa cari yang lain aja, tp kasih tahu baik baik. Dan kalau kamu ada di posisi yg ditolak orang karena kegedean atau kekecilan, jangan kecil hati. Selalu ada orang di luar sana yang tidak akan mempermasalahkan itu. Just move on to the next one

Jumat, 18 Juli 2014

Movie : The Normal Heart


Ketika mendengar ada film tentang gay yang dibuat oleh Ryan Murphy dengan bintang Matt Bomer, Jonathan Groff, Jims parson, BD Wong langsung penasaran seperti apa filmnya. Para bintang yang memang openly gay yang diarahkan oleh Sutradara yang juga openly gay membuat semakin excited menunggunya. Apalagi ketika mendengar Julia Roberts juga ikut serta di dalamnya. Tetapi ketika membaca bahwa bintang utamanya adalah Mark Ruffalo alias Hulk dari Avengers, langsung jadi agak bingung. Kenapa dari sekian banyak aktor gay, dia memilih seorang Hulk untuk menjadi bintang utama ceritanya. Tetapi setelah menonton film yang hanya bisa ditonton di HBO ini, jadinya malah kepikiran tidak ada yang lebih cocok selain si Hulk untuk berperan dalam film ini


Ceritanya sendiri sebenarnya diangkat dari pertunjukan musikal berjudul sama. Dengan setting awal 80an ketika penyakit AIDS baru terangkat ke permukaan, dan dicap sebagai penyakit kaum homoseksual. Filmnya bercerita tentang Ned Weeks yang diperankan oleh Bruce Banner, eh maksudnya Mark Ruffalo yang dalam masa masa tersebut dipaksa untuk menyaksikan satu persatu teman hingga kekasihnya meninggal oleh sebuah penyakit misterius yang hanya diderita kaum homoseksual. Tidak ada pihak yang benar benar mau membantu mereka, sehingga mereka harus membentuk organisasi khusus untuk menyebarkan informasi mengenai penyakit tersebut dan juga untuk membantu mereka yang sudah terinfeksi. Ada dokter yang dimainkan oleh Julia Roberts dengan sempurna yang berusaha membantu mereka. Ada juga gay yang masih di closet yang hanya mau membantu secara diam diam, dan bahkan mengkhianati usaha mereka ini.



Film ini sebenarnya lebih membantu kita untuk #melawanlupa terhadap periode dimana penyakit AIDS merengut begitu banyak nyawa tetapi tidak ada yang melakukan tindakan cepat dan tanggap untuk menanggulanginya. Akibatnya puluhan juta harus meninggal sampai ketika pemerintah mulai menaruh perhatian serius terhadap penyakit ini



Film ini tampaknya harus menjadi film wajib untuk gay agar kita semua dapat mendapatkan gambaran seperti apa kehidupan ketika komunitas gay dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan. Semata-mata agar kita bisa lebih mensukuri kehidupan yang kita miliki saat ini. Memang sih masih jauh dari sempurna, tetapi juga sudah jauh banget dari tahun 80an bahkan untuk di negara seperti Indonesia

Related Posts with Thumbnails